Minggu

UTSMAN BIN AFFAN

Utsman bin Affan
Khalifah yang Wafat saat Membaca al-Qur'an

Nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash Abu Amr Abu Abdillah al-Quraisy al-Amawi. Nasabnya bertemu dengan nasab Nabi Muhammad Saw. pada jalur kakek keempat, yaitu Abdu Manaf. Pada masa jahiliah, ia dipanggil Abu Amr. Namun, tatkala istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah Saw. melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdullah, lalu ia berganti menjadi Abu Abdillah, dan ia masyhur dengan julukan Dzu nurain (pemilik dua cahaya).

Pada masa jahiliah, Utsman adalah seorang yang terpandang. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat pemalu, hartawan, dan pemilik petuah yang didengar. Ia tidak pernah sujud kepada sebuah patung, tidak pula berbuat keji, tidak pernah meminum khamar, baik sebelum maupun setelah islam. Utsman bercerita, "Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pula panjang angan-angan. Aku pun tidak pernah menyentuh zakarku dengan tangan kananku setelah aku gunakan tangan itu untuk membai'at Rasulullah Saw. aku tidak pernah minum khamar pada masa jahiliyah maupun setelah islam."

Utsman bin Affan adalah seorang penghafal al-Qur'an yang fasih. Ia termasuk sahabat yang selalu dekat dengan al-Qur'an. Ia juga selalu melakukan upaya-upaya mulia untuk menjaga kemurnian dan kesucian al-Qur'an. Ia senantiasa terlibat di majelis-majelis qur'ani semasa hidupnya. Ia juga berhasil menghimpun al-Qur'an dalam satu mushaf dan menyebarkannya ke banyak kota.

Ali bin Abi Thalib memuji konsistensi Utsman dalam menjaga kemurnian dan kesucian al-Qur'an. Ia berkata, "Kalaulah Utsman tidak melakukannya, pasti akan kulakukan." Selain itu, Utsman juga mampu menyatukan al-Qur'an yang tujuh jenis huruf atau dialek sehingga terhindarlah malapetaka dan fitnah perpecahan umat.

Utsman adalah seorang mu'alim yang cinta kepada al-Qur'an. Kecintaannya terhadap al-Qur'an telah membuahkan hasil yang senantiasa dikenang hingga hari kiamat. Peristiwa pengumpulan al-Qur'an dan penyeragaman bacaan adalah bukti nyata bagi seorang yang sudi merenunginya. Ia adalah sahabat yang telah meriwayatkan sabda Rasulullah Saw., "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya."

Utsman termasuk as-sabiqun al-awwalun (orang-orang yang pertama menyambut dakwah islam). Ia mengikrarkan diri sebagai seorang muslim berkat dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq pada umur 34 tahun. Saat kaumnya menolak dan mengingkari seruan dakwah Rasulullah Saw., Utsman justru membuka hati dan meyakini beliau tanpa keraguan. Tatkala seruan hijrah dikumandangkan, ia adalah termasuk seorang yang taat perintah sehingga beliau dua kali berhijrah, yaitu ke negeri Habasyah dan Madinah.

Keunggulan sahabat Utsman semakin tampak pada beberapa keadaan penting pada masa Rasulullah Saw. saat musim paceklik panjang, kemiskinan dan kefakiran menjadi bagian bagi setiap kaum muslimin. Saat itu pula, Rasulullah Saw. menyerukan seruan jihad, dan beliau tengah menyiapkan pasukan besar untuk diberangkatkan dalam perang Tabuk melawan pasukan Romawi. Pasukan itu disebut jaisyul 'usrah karena sulitnya kondisi materi para sahabat pada saat itu. Namun, Rasulullah Saw. tetap mendorong para sahabatnya untuk berinfak dan bersedekah dalam rangka menyiapkan pasukan besar tersebut. Hingga beliau berkata, "Barang siapa menyiapkan jaisyul usyroh, baginya surge."

Tiba-tiba, Utsman yang datang membawa kepingan-kepingan dinar berjumlah 1000 dinar, lalu diberikan di hadapan Rasulullah Saw. sambil memeganginya, keluarlah ucapan yang masyhur dari bibir beliau, "Tidaklah memudhorotkan Utsman sesuatu yang ia lakukan setelah ini."

Peristiwa lain juga pernah terjadi, yakni saat jumlah kaum muslimin semakin bertambah, dan Masjid Nabawi serasa tidak dapat lagi menampung jamaah, maka Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa membeli lokasi milik keluarga Fulan, lalu menambahkan untuk perluasan masjid dengan kebaikan, maka ia kelak di surge." Lantas, Utsman membelinya, dan mewakafkan tanah itu untuk masjid.

Demikian juga tatkala Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah, maka tidak dijumpai air tawar, kecuali dari sumur rumah. Lalu, Rasulullah Saw. bersabda, "Barang siapa membeli sumur dan menjadikan gayung miliknya bersama gayung milik kaum muslimin maka kelak ia di surge." Mendengar ucapan tersebut, Utsman pun segera membelinya.

Dari semua kebaikan dan totalitas Utsman pada Islam, Rasulullah Saw. menggolongkan Utsman sebagai  min ahlil jannah (salah satu penghuni surge). Abu Musa al-Asy'ari pernah berkisah, "Suatu hari, Rasulullah Saw. masuk ke sebuah kebun, dan beliau memerintahkanku untuk menjaga pintu kebun tersebut. Maka, datanglah seorang laki-laki meminta izin untuk masuk. Maka, Rasulullah Saw. mengatakan, 'Izinkan ia masuk, dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surge.' Ternyata, ia adalah Abu Bakar. Lalu, datang seorang laki-laki yang lain, dan meminta izin untuk masuk. Rasulullah Saw. berkata, 'Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surge.' Ternyata, ia adalah Umar. Kemudian, datang lagi seorang yang lain meminta izin untuk masuk, namun sejenak, Rasulullah Saw. terdiam. Lalu, beliau bersabda, 'Izinkanlah ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya berupa surge atas bala yang akan menimpanya.' Ternyata, ia adalah Utsman bin Affan.

Sayang, sepeninggal Rasulullah Saw., gelombang fitnah mulai terasa dan terus membesar. Puncaknya adalah ketika Utsman menjadi khalifah ketiga. Saat itu, persoalan syubhat dan fitnah yang kejam bergulir hebat dan tidak dapat terbendung lagi. Api kebencian telah menyulut pada hati para pemberontak. Akhirnya, mereka datang ke Madinah dan mengepung rumah Utsman. Mereka meminta agar Utsman meninggalkan kekhalifahannya, atau mereka akan membunuhnya.

Namun, Ibnu Umar segera masuk menemui Utsman, dan memintanya agar tetap mempertahankan kekhalifahannya. Sebab, pemimpin yang meninggalkan rakyatnya, berarti telah mengingkari sunnah. Lagi pula, Utsman adalah pemimpin yang baik. Ia hanya terjebak fitnah dari orang-orang yang iri dan dengki padanya. Utsman juga menyadari bahwa fitnah inilah yang sejak jauh-jauh hari telah diberitakan oleh Rasulullah Saw. karena itu, Utsman hanya bisa bersabar dan menyerahkan urusannya kepada Allah Swt.

Akhirnya, orang-orang khawarij tersebut memanjat rumah Utsman, lalu pedang-pedang mereka menglirkan darah Utsman yang suci, sedangkan ia tengah berpuasa dan membaca kitabullah, hingga tetesan darah pertama tatkala membaca ayat berikut:

"…Maka, Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 137).

Pada malam hari sebelum meninggal dunia, Utsman bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Beliau berkata padanya, "Wahai Utsman, berbukalah bersama kami." Saat tiba waktu subuh, Utsman melakukan puasa. Namun, ia belum sempat berbuka sebab sudah wafat karena dibunuh. Utsman meninggal dunia dalam usia 82 tahun.

daftar bisnis ustad yusuf mansur