Kamis

HAFIZH YANG YATIM PIATU

Bara'ah Abu Lail
Hatimu setegar al-Qur'an, Meski Ujian Bertubi-tubi Menghantam

Tidak semua orang bisa bertahan dan berhati lapang ketika mendapatkan ujian bertubi-tubi dalam hidup ini. Namun, tidak demikian, bagi gadis berhati samudra dan hafal al-Qur'an 30 juz seperti Bara'ah Abu Lail. Ujian telah mengguncang hidupnya di usianya yang masih belia. Mungkin saja, semua orang akan berkata "kasihan" atau akan bersimpati padanya ketika di usianya yang masih kecil itu, ia sudah harus kehilangan ibunya karena tersandera penyakit kanker dan kehilangan ayahnya karena kecelakaan.

Tentu, tidak semua orang yatim piatu bisa bangkit dan tegar menghadapi kenyataan hidup seperti gadis kelahiran Mesir ini. Tapi, ia mampu menatap masa depannya dengan baik dan mampu membimbing hatinya untuk lebih tenang. Bahkan, ia pernah berkata bahwa manusia hidup sejatinya untuk mati. Ya, untuk mati. Tak ada artinya meratapi penderitaan, ujian, dan cobaan terlalu lama. Ungkapan tegar inilah yang membuat orang terkagum-kagum pada perempuan hafal al-Qur'an tersebut.

Pada suatu hari, ketika ibunya sudah merasa usianya tidak akan panjang lagi karena menderita kanker akut, barangkali sang ibu menerima kabar dari Sang Maut, ibu Bara'ah berkata kepadanya, "Sebentar lagi, ibu akan pergi menuju surga-Nya. Ibu akan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Anakku, bila nanti ibu akan pergi meninggalkan dunia, bacalah al-Qur'an yang engkau hafal di telinga ibu, niscaya ibu akan pergi dengan tenang. Dan, al-Qur'an akan menjagamu setelah ibu meninggal."

Ungkapan itu terus terngiang dalam pikirannya, serta membuatnya gelisah dan gundah gulana. Ia bertanya-tanya pada ayahnya, mengapa ibu diberi penyakit? Ayahnya hanya menjelaskan bahwa ibunya terserang penyakit yang telah "diletakkan" oleh Allah Swt. Ia hanya mengangguk di samping ibunya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Pelan-pelan, ia terus membaca ayat-ayat al-Qur'an yang ia hafal. Ia membacanya secara terus-menerus, yang tentu diperuntukkan kepada ibunya.

Tak lama berselang, setelah ayahnya mendapatkan informasi dari sang dokter bahwa kondisi ibunya semakin kritis dan harapan untuk sembuh semakin menipis, Bara'ah diajak pulang oleh ayahnya, dengan tujuan agar gadis kecil itu tak menyaksikan detik-detik terakhir ibunya menghempaskan napas. Ia diminta berdiam di rumah bersama pembantunya, sedangkan ayahnya kembali lagi ke rumah sakit. Tak lama kemudian, di tengah perjalanan dengan mobil pribadinya, ayah Bara'ah mendapatkan kabar dari rumah sakit bahwa istrinya sedang kritis. Mobil itu melaju semakin kencang, hingga dengan cepat tiba di rumah sakit. Dan, tak lama kemudian, Ibu Bara'ah benar-benar berpulang ke Rahmatullah.

Duka lara mengguncang jiwa ayah Bara'ah. Dalam pikiran ayah Bara'ah, bagaimana ia harus memberi kabar pada anaknya bahwa ibunya benar-benar telah pergi? Tangis pecah dan jiwanya diselimuti sungkawa. Dan, dalam kondisi yang kurang stabil itu, ayah Bara'ah hendak pulang untuk memberi kabar dan menjemput Bara'ah, namun yang terjadi justru celaka. Ketika sang ayah hendak menyeberang menuju tempat parkir mobilnya dengan pikiran kalut, ia tidak memperhatikan bahwa dari arah kanan, sebuah mobil melaju kencang. Ayah Bara'ah tertabrak mobil itu, dan ia meninggal seketika.

Telepon rumah berdering. Diangkat oleh seorang pembantu di rumah Bara'ah. Tangis meledak tiba-tiba, kabar dari rumah sakit begitu lara. Si pembantu tak sampai hati untuk menyampaikan kepada Bara'ah. Tapi, apa boleh buat, kenyataan pahit dipaksa bersua, si pembantu menyampaikan kabar buruk dari langit itu. Namun, yang membuat sang pembantu dan semua isi keluarga terkejut adalah sambutan Bara'ah si penghafal al-Qur'an itu berkata pada pembantunya.

"Alhamdulillah! Ternyata Allah Swt. Lebih mencintai ayah dan ibuku. Sebentar lagi, aku akan menyusul ke surga-Nya."

Mendengar ucapan Bara'ah, semua isi keluarga termasuk si pembantu sangat kaget. Kehilangan kedua orang tua, pikir pembantunya. Bukan sebuah peristiwa kecil, tetapi sama seperti separuh dari jiwanya hilang. Tetapi, Bara'ah masih mampu tegar menghadapinya. Ayah dan ibu Bara'ah adalah warga negara Mesir yang bekerja sebagai tim medis di Arab Saudi. Bara'ah pun hidup tanpa ayah dan ibu di negeri orang. Namun, tak sedikit pun merasa gentar menjalani hidupnya.

Namun, beberapa bulan kemudian, Bara'ah pun jatuh sakit. Tim dokter memvonisnya mengalami kanker akut sebagaimana yang diderita oleh ibunya. Setelah mendengar kisah inspiratif dari media Arab yang merilis profilnya, lalu seorang dermawan di Arab Saudi berupaya membiayai Bara'ah untuk berobat di Inggris. Namun, upaya medis itu tak membuahkan hasil yang menggembirakan. Jiwa Bara'ah tak tertolong. Dan, di akhir hayatnya, ia berkata kepada sang pembantu yang menemaninya, "Aku tak takut mati. Mati adalah keniscayaan dan setiap orang akan mengalaminya, baik sekarang ataupun nanti. Yang membuat kita berbeda adalah bagaimana cara kita mati. Sang maut telah menungguku. Dan, pintu syahid kian terbuka. Aku segera menemui ayah dan ibu di surga-Nya."

Pagi kelabu itu. Tepat hari jum'at. Sang penghafal al-Qur'an yang tegar dan sabar akan segala ujian dan cobaan telah menghembuskan napasnya yang terakhir. Dan, pagi itu pula, matahari menjadi saksi terakhir atas kehadirannya di dunia. Semoga tumbuh Bara'ah-Bara'ah baru berikutnya yang menghafal al-Qur'an dan hatinya setegar al-Qur'an. Amin.


daftar bisnis ustad yusuf mansur