Kamis

MENJUNJUNG TINGGI AL-QUR'AN DAN SUNNAH

Ali Bin Abi Thalib
Sahabat Yang Zuhud, sederhana, serta menjunjung tinggi al-Qur'an dan Sunnah

Ali adalah seorang penghafal al-Qur'an yang fasih termasuk di antara orang yang pertama kali mendapat hidayah Islam. Ia berislam dalam usia yang sangat belia, yakni antara sepuluh atau sebelas tahun. Sungguh luar biasa, pada usia semuda itu, ia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Untuk itulah, Rasulullah Saw. sangat bangga padanya. Apalagi, Ali kemudian hidup bersama Rasulullah Saw. dan selalu berada di garis terdepan bersama beliau. Ali juga termasuk orang pertama yang melakukan shalat berjamaah bersama beliau.

Ali bin Abi Thalib adalah sosok manusia yang hidup zuhud dan sederhana, memakai pakaian seadanya, dan tidak terikat dengan corak atau warna tertentu. Pakaiannya berbentuk sarung yang tersimpul di atas pusat. Pada bagian atas tubuhnya, terdapat rida' (selendang). Bahkan, pakaianbagian atasnya bertambal. Ia juga selalu mengenakan kopiah putih buatan Mesir yang dililit dengan surban.

Ali bin Abi Thalib adalah sosok pejuang yang pemberani dan heroic, pantang mundur, serta tidak pernah takut mati dalam membela dan menegakkan kebenaran. Keberanian dicatat di dalam sejarah yang abadi sepanjang masa.

Ali bin Abi Thalib terkenal sangat tegas. Seperti yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Zaid bin Wahab, Ali pernah berkhutbah di hadapan kaum muslimin. "Hai kaum muslimin, berpeganglah kalian di jalan Allah Swt. Demi mencapai keridhaan-Nya melawan kaum yang keluar dari agama dan tenggelam dalam kesesatan. Persiapkan dirimu dengan pasukan kuda, dan bertakwalah engkau kepada Allah Swt. Karena Dia selalu bersama dengan orang-orang yang bertawakkal."

Dalam membela agama Allah Swt., Ali selalu berada di barisan terdepan bersama Rasulullah Saw. ia tak pernah gentar menghadapi musuh-musuh islam. Ia selalu berperang sampai titik darah penghabisan. Pernah suatu kali, saat akan terjadi perang Shiffin, seorang musuh bernama Khusyab al-Himyari berteriak kepada Ali, "Hai Ibnu Abu Thalib, tinggalkan negeri kami (syam), dan kami akan meninggalkan negerimu (Irak), karena kami tidak akan berperang denganmu!"

Namun, Ali menjawab dengan seruan yang lantang, "Demi Allah, hai orang zhalim, aku tidak akan meninggalkan peperangan ini. Kalau aku tahu bahwa Allah Swt. Mengizinkan aku untuk mendiamkan suatu yang mungkar, pasti aku diamkan. Namun, Allah Swt. Menyuruh kami melarang kemungkaran selama mereka mampu untuk berjihad fi sabilillah sampai Allah Swt. Memberikan keputusan!"

Selain pemberani Ali terkenal zuhud, wara', dermawan, dan cerdas. Ia sangat memahami ilmu al-Qur'an dengan baik. Abu Abdurrahman as-Sulmi berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih pandai dalam al-Qur'an daripada Ali." Bagaimana tidak jika kehidupan sehari-hari Ali tidak pernah sedikitpun terlepas dari al-Qur'an. Di mana pun berada, Ali selalu menyertakan al-Qur'an. Ia menghafal al-Qur'an dengan sangat baik, dan terus membacakannya sesering mungkin. Bahkan, ketika berada di medang perang, Ali masih terus mengumandangkan al-Qur'an.

Ali tidak hanya fasih menghafal dan membaca al-Qur'an, namun ia juga memahami kandungan makna dan asbabun nuzulnya. Suatu kali, ia pernah berkata, "Demi Allah, tidak satu pun ayat yang diturunkan, kecuali aku telah mengetahui tentang apa dan di mana diturunkan. Sesungguhnya, Allah Swt. Telah memberikan kecerdasan hati dan lidah yang fasih."

Betapa besar kecintaannya pada islam. Pada Rasulullah Saw., Ali rela melakukan pengorbanan apa pun, bahkan jika itu harus mengorbankan nyawanya. Pernah suatu kali, Rasulullah Saw. ingin berhijrah ke Madinah karena saat itu beliau mendapat ancaman yang besar dari orang-orang kafir. Namun, sebelum berangkat hijrah, Rasulullah meminta Ali untuk tidur di tempat tidur beliau, dan menggunakan selimut beliau. Sebab, rumah Rasulullah Saw. dikepung pada malam hari oleh sekelompok pemuda dari berbagai utusan kabilah Arab untuk membunuh beliau.

Maka, dengan sigap menyanggupi permintaan tersebut. Ali pun tidur di tempat beliau dengan mengenakan selimut milik beliau. Di sini, Ali benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi Rasulullah Saw., dengan penuh tawakkal kepada Allah Ta'ala.

Keesokan harinya, Ali disuruh menunjukkan keberadaan Rasulullah Saw. namun, ia hanya menjawab tidak tahu, karena ia hanya disuruh tidur di tempat tidur Rasulullah Saw. mendengar jawaban itu, ia disiksa oleh pihak musuh. Ia digiring ke Masjidil Haram, ditahan, dan disiksa. Setelah puas disiksa, ia dibebaskan.

Betapa besar kecintaan dan penghormatan Ali kepada Rasulullah Saw. ia pernah berkata, "Aku mengikuti jejak Rasulullah Saw. seperti anak unta yang mengikuti jejak induknya." Ali juga mengatakan dengan sungguh-sungguh, "Sesaat pun, aku tak pernah melawan Allah Swt., dan sesaat pun aku tak pernah menentang Rasulullah Saw."

Al-Qur'an dan sunnah telah menjadi pegangan hidupnya. Sampai akhir hayatnya, Ali melakukan banyak hal untuk membela agama Allah Swt. Sampai ia diangkat menjadi khalifah keempat. Jiwa kepemimpinannya berdasarkan aturan Allah Swt. Dan Rasulullah Saw. walau pemberontakan hebat pada masanya, ia tetap kukuh memegang al-Qur'an dan hadits. Ali Syahid terbunuh pagi hari tanggal 17 Ramadhan 40 Hijriah di Kufah. Ia dibunuh Ibnu Muljam Al-Maradi.


daftar bisnis ustad yusuf mansur