Selasa

HAFIZH YANG DIBANGGAKAN OLEH RASULULLAH SAW

Abu Musa al-Asy'ari
Hafizh yang Dibanggakan oleh Rasulullah Saw

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Qais bin Sulaim. Ia merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang hafal al-Qur'an. Selain itu, ia mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap kitab suci al-Qur'an.

Sahabat bergelar Abu Musa al-Asy'ari ini meninggalkan negeri dan kampong halamannya, Yaman, menuju Makkah, segera setelah mendengar munculnya seorang rasul di sana yang menyerukan tauhid. Abu Musa sudah mendengar cerita-cerita tentang Rasulullah Saw. dan menyatakan kekagumannya. Ia pun berangkat ke Makkah dan berniat menjadi murid Rasulullah Saw.

Di Makkah, waktunya dihabiskan untuk duduk di hadapan. Untuk menerima petunjuk dan keimanan dari beliau. Di sanalah, Abu Musa mulai menghafalkan al-Qur'an.

Abu musa dianugerahi suara yang merdu oleh Allah Swt. Suara merdunya ini mampu menembus tirai hati orang-orang mukmin dan melenakannya. Siapa pun yang mendengar suara Abu Musa, ia akan tergerak hatinya untuk mengikuti sesuatu yang ia ucapkan. Bahkan, Rasulullah Saw. pernah memuji suaranya yang merdu itu. Beliau katakana, "Ia (Abu Musa) benar-benar telah diberi seruling Nabi Daud."

Kemahirannya mengumandangkan al-Qur'an dengan suara yang sangat indah dan bacaan yang sempurna membuat banyak sahabat menanti-nanti kedatangan Abu Musa untuk menjadi imam setiap kesempatan shalat. Ketika memimpin shalat, ia selalu melafalkan bacaan-bacaan indah yang membuat batin jamaahnya tenang, serta shalat mereka pun menjadi khusyuk.

Abu Musa telah mempelajari al-Qur'an langsung dari Rasulullah Saw. ia kerap kali datang kepada Rasulullah Saw. dan belajar al-Quran dengan serius. Ia mulai menghafal sejak menyatakan keislamannya pertama kali. Rasulullah Saw. yang mengetahui potensi bacaan Abu Musa yang sempurna itu amat senang membimbingnya. Abu Musa sangat cerdas. Hafalan al-Qurannya kuat dan cepat. Inilah yang kemudian membuat Rasulullah Saw. sangat bangga padanya, dan kerap memintanya untuk menjadi imam atau membimbing sahabat lainnya.

Setelah sempurna menghafal al-Qur'an dan dianggap mampu membawa amanat islam, Rasulullah Saw. mengijinkan Abu Musa kembali ke negerinya, Yaman. Lalu, pulanglah ia ke negerinya membawa kalimat Allah Swt. Di sana, ia mengajari penduduknya tentang islam dan al-Qur'an. Banyak yang mengikuti jejaknya untuk menjadi seorang muslim yang taat.

Tak lama kemudian, Abu Musa kembali lagi ke Makkah setelah selesainya Pembebasan Khaibar. Kali itu, ia tidak datang seorang diri, tetapi membawa lebih dari 50 orang laki-laki penduduk Yaman yang telah diajarinya tentang agama islam, serta dua orang saudara kandungnya yang bernama Abu Ruhum dan Abu Burdah.

Rombongan ini, bahkan seluruh kaum mereka, dinamakan Rasulullah golongan Asy'ari, serta dilukiskannya bahwa mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya di antara sesamanya. Dan, sering mereka diambilnya sebagai perbandingan bagi para sahabatnya. Beliau bersabda, "Orang-orang Asy'ari ini bila mereka kekurangan makanan dalam peperangan atau ditimpa paceklik, maka mereka kumpulkan semua makanan yang mereka miliki pada selembar kain, lalu mereka bagi rata…. Maka, mereka termasuk golonganku, dan aku termasuk golongan mereka…"

Mulai saat itu, Abu Musa pun menempati kedudukannya yang tinggi dan tetap di kalangan kaum muslimin dan mukminin yang ditakdirkan beroleh nasib mujur menjadi sahabat Rasulullah Saw. dan muridnya, dan yang menjadi penyebar islam ke seluruh dunia setiap zaman.

Abu Musa bukan hanya seorang sahabat yang alim, tapi juga seorang pemimpin dan prajurit perang yang tangguh. Ia menjadikan al-Qur'an sebagai perisai untuk memerangi kezhaliman. Kualitas bacaannya yang luar biasa telah membuka hati banyak orang untuk mengikuti jejaknya. Ia gagah sekalligus ramah. Ia pemberani sekaligus lemah lembut.

Al-Qur'an telah membuat hati Abu Musa terang. Sikap-sikapnya yang santun membuatnya mendapatkan kemuliaan di hadapan Rasulullah Saw. para sahabat, dan seluruh muslim dunia sepanjang masa. Namanya sudah banyak dicatat di berbagai buku sejarah islam.

Abu Musa sangat bertanggung jawab terhadap tugasnya dan besar perhatiannya terhadap sesame manusia. Itulah yang kemudian membuat Rasulullah Saw. bersabda mengenai dirinya, "Pemimpin dari orang-orang berkuda ialah Abu Musa."

Abu Musa juga melakukan gambaran hidupnya saat berjuang bersama Rasulullah Saw. "Kami pernah pergi menghadapi suatu peperangan bersama Rasulullah Saw. hingga sepatu kami pecah berlubang-lubang, tidak ketinggalan sepatuku. Bahkan, kuku jariku habis terkelupas, sampai-sampai kami terpaksa membalut telapak kaki kami dengan sobekan kain."

Perjalanan hidup dan kisah Abu Musa itu kini banyak terekam dalam buku-buku sejarah. Ia wafat dalam usia 63 tahun, yaitu pada tahun 44 hijriah. Ia telah meriwayatkan 365 hadits. Sungguh, Abu Musa adalah cerminan muslim yang cerdas, tangguh, dan bijaksana.

daftar bisnis ustad yusuf mansur