Minggu

KISAH ABU DARDA' SEORANG HAFIZH

Abu Darda'
Mujahid dan Ahli Hikmah yang Menghafal al-Qur'an

Abu Darda' adalah seorang hafizh yang bijaksana. Ia termasuk orang yang mengumpulkan al-Qur'an dan menjadi sumber bagi para pembaca di Damaskus pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

Ia memiliki kedudukan yang tinggi dalam hal ilmu dan amal daripada para sahabat yang lainnya. Selama hidupnya, Abu Darda' mengajarkan kepada umat tentang segala hal yang ia pelajari dari Rasulullah saw. seorang sahabat bernama Suwaid bin Abdul Aziz pernah mengatakan bahwa pada suatu hari, Abu Darda' sedang shalat di masjid Damaskus. Ribuan orang mengelilinginya untuk mempelajari al-Qur'an. Ia membagi-bagikan satu kelompok dengan sepuluh orang dan dipilih satu orang ketua. Ia hanya mengawasinya di mihrab. Jika ada salah, ketua tersebut menghadap Abu Darda' untuk bertanya. Jumlah penghafal al-Qur'an dalam majlis Abu Darda' mencapai 1.600 orang.

Abu Darda' mendedikasikan ddirinya pada al-Qur'an secara total. Baginya, tiada hari tanpa al-Qur'an. Ia menghafalnya kala ssendiri atau bersama-sama dalam majlis. Selain memiliki kemampuan hafalan yang kuat, bacaan al-Qur'annya juga sangat fasih. Rasulullah Saw. telah memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi padanya, sebab ia telah mampu menjaga dan mengamalkan al-Qur'an.

Selain seorang hafizh yang fasih, Abu Darda' juga seorang mujahid yang tangguh dan ahli hikmah yang bijaksana. Sebagai seorang mujahid, ia selalu berada di garis depan bersama Rasulullah Saw. saat berperang melawan musuh. Ia adalah prajurit yang pantang menyerah dan pemberani. Perang terakhir yang ia ikuti adalah perang untuk pembebasan kota Makkah.

Dan, sebagai ahli hikmah, Abu Darda' adalah sosok yang selalu rindu pada hakikat hidup, dan terus berusaha untuk bisa menemukan maknanya. Pasca pembebasan kota Makkah, ia memutuskan untuk menyerahkan diri secara bulat kepada Allah Swt. Ia memilih jalan tasawuf hingga mencapai tingkat kebenaran yang teguh. Ia terus berdzikir dan menyempurnakan hafalannya. Ia juga terus berbuat kebajikan untuk masyarakatnya.

Pernah suatu hari, ibunya bertanya tentang amalan yang sangat disenangi oleh Abu Darda'. Ia pun menjawab, "Tafakkur dan mengambil iktibar (pelajaran)." Inilah yang menjadi bukti keseriusan Abu Darda' untuk menjadi seorang ahli hikmah. Ia ingin di akhir hidupnya terus berada dalam lingkaran ketenangan dan kedamaian batin. Ia sudah meninggalkan dunia peperangan dan memutuskan untuk melakukan ubudiyah dan tafakkur yang dalam.

Dahulu, sebelum memeluk islam dan berbaiat pada Rasulullah Saw. Abu Darda' adalah seorang saudagar kaya yang sukses di Madinah. Sebelum memeluk islam, ia telah menghabiskan sebagian besar umurnya dalam perniagaan, bahkan sampai Rasulullah Saw. dan kaum muslimin lainnya hijrah ke Madinah. Barula kemudian, setelah Rasulullah Saw. dan kaumnya hijrah, ia menyatakan keislamannya. Sejak itu, kehidupannya berbalik arah.

Abu Darda' meninggalkan dunia perniagaan, dan mencurahkan totalitasnya untuk islam. Ia turut berperang bersama Rasulullah Saw. ia juga terus melakukan pembelajaran dan pengkajian al-Qur'an dan hadits. Ia berkembang menjadi orang yang alim dan arif.

Ia juga telah belajar banyak pada Rasulullah Saw. terlebih pada sikap-sikap bijak beliau. Kesan paling dalam yang mengakar dalam jiwanya adalah saat Rasulullah Saw. pernah berkata, "Yang sedikit tapi mencukupi itu lebih baik daripada yang banyak namun merugikan." Oleh sebab itu, Abu Darda' kerap menangisi mereka yang terlena dan jatuh menjadi tawanan harta kekayaan.

Abu Darda' juga pernah menghimbau pada manusia agar tidak serakah dalam mereguk kenikmatan dunia. Sebab kenikmatan dunia tidak aka nada sudahnya. Mereka yang menggantungkan diri pada dunia dan mencari-cari kenikmatan itu dengan serakah, maka mereka termasuk orang yang sangat merugi. Abu Darda' juga mengatakan, "Barang siapa tidak pernah merasa puas terhadap dunia, maka (sesungguhnya) tak pernah ada dunia baginya."

Untuk itulah, Abu Darda' menyeru, hendaknya harta dicari dengan cara yang baik, bukan dengan kerakusan. Jangan dimakan, kecuali yang baik. Jangan diusahakan, kecuali yang baik. Dan, jangan dimasukkan ke rumah, kecuali yang baik. Menurut keyakinannya, dunia dan seluruh isinya hanya semata-mata pinjaman dan menjadi jembatan untuk menyeberang menuju kehidupan yang abadi.

Sampai pada saat-saat terakhir menjelang kematiannya, ia juga tidak terlena dengan harta. Kala itu, para sahabat sedang menjenguk Abu Darda' yang sedang sakit. Mereka mendapatinya terbaring di atas hamparan dari kulit. Lalu, mereka pun menawarkan kepadanya agar kulit itu diganti dengan kasur yang baik dan empuk. Namun, tawaran ini dijawabnya sambil memberi isyarat dengan telunjuknya, sedangkan kedua bola matanya menatap jauh ke depan. "Kampung kita nun jauh di sana, untuknya kita mengumpulkan bekal. Dan, ke sana kita akan kembali. Kita akan berangkat kepadanya, dan beramal untuk bekal di sana."

Abu Darda' wafat pada tahun 32 Hijriah pada masa Khalifah Utsman di Syam. Ia telah menyempurnakan hafalannya, dan berhasil meriwayatkan 179 hadits.

daftar bisnis ustad yusuf mansur