Minggu

ABDULLAH BIN MAS'UD

Abdullah Bin Mas'ud
Sang Pemegang Rahasia Rasulullah Saw.

Ia memiliki nama lengkap Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil Abdurrahman al-Hadzali al-Maki al-Muhajiri. Ia termasuk salah seorang penghimpun al-Qur'an pada masa Rasulullah Saw. ia telah menghafal al-Qur'an secara langsung dari Rasulullah Saw. sebanyak 70 surat. Ia mampu menyempurnakan hafalannya dalam waktu singkat. Abdullah juga tercatat sebagai muslim pertama yang mengumandangkan al-Qur'an dengan suara merdu dan lantang.

Abdullah bin Mas'ud selalu mengikuti Rasulullah Saw. sejak usia belia. Tak beberapa lama setelah memeluk islam, ia mendatangi Rasulullah Saw. dan memohon kepada beliau agar diterima menjadi pelayan. Rasulullah pun menyetujuinya. Sejak hari itu, Abdullah bin Mas'ud tinggal di rumah Rasulullah Saw.

Di rumah Rasulullah Saw., Abdullah bin Mas'ud beralih pekerjaan dari penggembala domba menjadi pelayan utusan Allah Saw. dan memimpin umat. Abdullah bin Mas'ud selalu mendampingi Rasulullah Saw. ke mana pun beliau melangkahkan kaki. Abdullah bin Mas'ud selalu membangunkan Rasulullah untuk shalat bila beliau tertidur, menyediakan air untuk mandi, mengambilkan terompah apabila beliau hendak pergi, dan membenahinya apabila beliau pulang, dan lain sebagainya. Abdullah bin Mas'ud juga dengan setia membawakan tongkat dan siwak Rasulullah Saw., menutupkan pintu kamar apabila beliau hendak tidur.

Lantaran kesetiaan itu, Rasulullah Saw. mengizinkan Abdullah bin Mas'ud memasuki kamar beliau jika perlu. Beliau mempercayakan kepadanya hal-hal yang rahasia, tanpa khawatir rahasia tersebut akan terbuka. Karenanya, Abdullah bin Mas'ud dijuluki orang dengan sebutan Shahibus Sirri Rasulullah, yakni pemegang rahasia Rasulullah Saw.

Abdullah bin Mas'ud dibesarkan dan dididik dengan sempurna dalam rumah tangga Rasulullah Saw. tak heran jika ia menjadi seorang yang terpelajar, berakhlak tinggi, sesuai dengan karakter dan sifat-sifat yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. kepadanya. Banyak sahabat yang mengatakan bahwa Abdullah bin Mas'ud paling mirip dengan akhlak Rasulullah Saw.

Bersama Rasulullah Saw., penglihatan Abdullah bin Mas'ud selalu dihiasi dengan kebiasaan-kebiasaan mulia Rasulullah Saw. pendengarannya juga selalu dihiasi dengan ayat-ayat al-Qur'an. Kiprahnya dalam memelihara al-Qur'an tidak diragukan lagi. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk Rasulullah Saw. dan al-Qur'an.

Kemudian, Abdullah bin Mas'ud menjadi ulama yang paling tahu tentang al-Qur'an. Tak heran jika Rasulullah Saw memujinya dan menhanjurkan para sahabat dan orang setelahnya untuk mempelajari kandungan al-Qur'an kepada Abdullah bin Mas'ud. Ia pernah berkata perihal pengetahuan mengenai Kitabullah (al-Qur'an), "Demi Allah, yang tiada Tuhan selain Dia. Tidak ada satu ayat pun dalam al-Qur'an, melainkan aku tahu di mana dan dalam situasi bagaimana diturunkan. Seandainya ada orang yang lebih tahu daripada aku, niscaya aku datang belajar kepadanya."

Pernah pada suatu ketika, Umar bin Khathab sedang dalam perjalanan, ia bertemu dengan sebuahkabilah. Malam sangat gelap bagai tertutup tenda, menutupi pandangan setiap pengendara. Abdullah bin Mas'ud berada dalam kabilah tersebut. Khalifah Umar memerintahkan seorang pengawal agar menanyai kabilah.

"Hai kabilah, dari mana kalian?" teriak pengawal.

"Min fajjil 'amiq 9dari lembah nan dalam)," jawab Abdullah.

"Hendak kemana kalian?"

"Ke Baitu Atiq (rumah tua, Ka'bah)," jawab Abdullah.

"Di antara mereka pasti ada orang alim," kata Umar.

Kemudian diperintahkannya pula menanyakan, "Ayat al-Qur'an manakah yang paling ampuh?"

Abdullah menjawab, "Allah, tiada Tuhan selain Dia, yang Maha Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak pula tidur…" (QS.al-Baqarah [2]: 255)

"Tanyakan pula kepada mereka, ayat al-Qur'an manakah yang lebih kuat hukumnya?" kata Umar memerintah.

Abdullah menjawab, "Sesungguhnya, Allah memerintah kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang kamu dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl [16]: 9)

"Tanyakan kepada mereka, ayat al-Qur'an manakah yang mencakup semuanya!" perintah Umar.

Abdullah menjawab, "Barang siapa yang mengerjakan kebaikan walaupun seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan walaupun sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula." (QS. Al-Zalzalah [99]: 8)

Demikian seterusnya, ketika Umar memerintahkan pengawal untuk bertanya tentang al-Qur'an, Abdullah bin Mas'ud langsung menjawabnya dengan tegas dan tepat. Hingga pada akhirnya, Khalifah Umar bertanya, "Adakah dalam kabilah Abdullah bin Mas'ud?"

Jawab mereka, "Ya, ada!"

Ada kisah lain yang menceritakan bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah penghafal sekaligus pembaca (qari') bersuara lantang dan merdu. Pada suatu hari, para sahabat berkumpul di Makkah. Mereka berkata, "Demi Allah, kaum Quraisy belum pernah mendengar ayat-ayat al-Qur'an yang kit abaca di hadapan mereka dengan suara keras. Siapa kira-kira yang dapat membacakannya kepada mereka?"

"Aku sanggup membacakannya kepada mereka dengan suara keras," kata Abdullah bin Mas'ud.

Namun, karena Abdullah bin Mas'ud dianggap terlalu belia, maka usulnya ditolak. "Tidak, jangan kamu! Kami khawatir kalau kamu membacakannya. Hendaknya seseorang yang punya keluarga yang dapat membela dan melindunginya dari penganiayaan kaum Quraisy," jawab mereka.

"Biarlah, aku saja. Allah Swt. Pasti melindungiku," kata Abdullah bin Mas'ud tak gentar.

Keesokan harinya, kira-kira waktu Dhuha, ketika kaum Quraisy sedang duduk-duduk di sekitar Ka'bah ad-Daulah, Abdullah bin Mas'ud berdiri di Maqam Ibrahim, lalu dengan suara lantang dan merdu, dibacanya surat ar-Rahman ayat 1-4. Bacaan Abdullah bin Mas'ud yang merdu dan lantang itu didengarkan oleh kaum Quraisy di sekitar Ka'bah. Mereka terkesima saat mendengar dan merenungkan ayat-ayat itu. Kemudian mereka bertanya, "Apakah yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abd (Abdullah bin Mas'ud) itu?"

"Sialan! Ia membaca ayat-ayat yang dibawa Muhammad!" kata mereka begitu tersadar. Lalu, mereka berdiri serentak, dan memukuli Abdullah bin Mas'ud. Namun, Abdullah bin Mas'ud meneruskan bacaannya hingga akhir surat. Ia lalu pulang menemui para sahabat dengan muka babak belur dan berdarah.

"Inilah yang kami khawatirkan terhadapmu," kata mereka.

"Demi Allah, musuh-musuh Allah itu semakin kecil di mataku. Jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan baca lagi di hadapan mereka."

Abdullah bin Mas'ud hidup hingga masa khalifah Utsman bin Affan. Ketika ia hampir meninggal dunia. Khalifah Utsman datang menjenguknya. "Sakit apakah yang kau rasakan, wahai Abdullah?" tanya khalifah dengan cemas.

"Aku sakit sebab dosa-dosaku," jawab Abdullah.

"Apa yang kau inginkan?"

"Rahmat Allah."

"Tidakkah kau ingin supaya kusuruh orang membawa gaji-gajimu yang tidak pernah kau ambil selama beberapa tahun?" tanya khalifah.

"Aku tidak membutuhkannya," kata Abdullah.

"Bukankah kau mempunyai anak-anak yang harus hidup layak sepeninggalmu?" tanya Utsman.

"Aku tidak khawatir, sebab Allah yang menjamin kebahagiaan merek. Lagi pula, aku menyuruh mereka membaca surat al-Waaqi'ah setiap malam. Karena aku mendengar Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang membaca surat al-Waaqi'ah setiap malam, ia tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya."

Perkataan Abdullah bin Mas'ud itu membuat Khalifah terharu. Betapa besar pengorbanan dan dedikasi Abdullah bin Mas'ud terhadap Islam. Hingga pada suatu malam yang hening, ia pun berangkat menghadap Tuhannya dengan tenang. Ia wafat pada tahun 32 Hijriah dalam usia 65 tahun. Ia wafat di Madinah, dan telah meriwayatkan 840 hadits.

daftar bisnis ustad yusuf mansur