Rabu

USAHA BECAK SEMAKIN MENGGURITA SETELAH IBADAH HAJI



Pak Nur Wahid – Tsikmalaya

Sebut saja namanya pak Nur Wahid. Dia biasa dipanggil pak Wahid. Dia berusia 56 tahun. Dia adalah penarik becak yang biasa mangkal di kawasan Gunung Pereng, kecamatan Cihideung, Tasikmalaya.

Pak Wahid mulai menarik becak pada tahun 1972 di Gunung Pereng. Sejak awal Wahid bertekad memiliki becak sendiri, maka dia mencicil becak secara kredit Rp 150,00/hari. Tentunya uang sebanyak itu merupakan jumlah yang cukup besar pada waktu itu. Cicilan itu dia bayar kurang lebih selama setahun.
Lunas membayar becak, pak Wahid mulai menyisihkan penghasilannya untuk pergi ibadah haji. Semula keinginannya itu sering ditertawakan orang. Seorang tukang becak kok mau ibadah haji. Namun tidak menyangka keinginnnya yang bersungguh-sungguh membuat Allah memudahkan langkahnya untuk pergi ke Baitullah. Pak Wahid memang sejak muda punya cita-cita naik haji. Sejak punya dua becak pak Wahid sudah mulai menabung agar bisa naik haji. Tak ada target harus berapa besar tabungannya terisi setiap bulan, pak wahid hanya menyisihkan uang dari hasil usahanya setelah digunakan untuk makan serta kebutuhan sehari-hari. Setelah menabung 30 tahun, akhirnya pak Wahid dan istrinya bisa naik haji tahun 2004. (Subhanallah, niat mulia yang disertai ketetapan hati sungguh akan mendapat bantuan dari Allah.)

Sepulang dari ibadah haji, pak Wahid kembali bekerja keras dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli tanah buat tempat tinggalnya. Berkat kerja keras siang malam dan kedisiplinannya dalam mengelola uang maka ia mampu membeli tanah dan membangun rumah. Usai memiliki rumah, pak Wahid kembali mengambil cicilan becak. Becak itu kemudian dia sewakan kepada rekan lainnya. Terhanyata hasilnya lumayan. Dari 1 becak sewaan it uterus menambah hingga kini memiliki 40 becak! Sebnyak 25 becak disewakan dengan tariff Rp 4000,00/hari. Sisanya dikreditkan kepada orang lain.

Walau tidak sekolah maupun membaca buku, pak Wahid cukup cerdas secara financial. Setelah becaknya bertambah, ia akhirnya mendirikan kamar kontrakan di daerah Gunung Pereng, Tasikmalya. Saat ini ada 25 kamar kontrakan dengan sewa Rp 85.000,00/bulan. Hasil dari kontrakan ini dapat untuk menambah penghasilan. Wahid juga berhasil memberikan pendidikan yang cukup kepada 3 anaknya. Si sulung lulusan Diploma 2. Adiknya lulusan SMA, yang bungsu masih SMA.

Hingga sekarang pak Wahid masih mengayuh becak. Sehari kadang mendapat RP 10-20 ribu. Kadang sama sekali kosong. Tetapi semua itu dijalaninya dengan kesabaran, keuletan dan kerja keras. Subhanallah sungguh ini adalah kisah nyata keajaiban naik haji yang sangat luar biasa, karena terkadang kita yang sudah kerja di belakang meja dengan gaji yang lumayan, kita sering merasa kekurangan padahal diluar sana banyak sekali masyarakat dari kalangan menengah ke bawah (seperti pak Wahid ini) yang menjadi pecut untuk kita semua, bahwa untuk berangkat haji itu tidak ditentukan besarnya penghasilan, tetapi bagaimana keuletan kita dalam mengatur keuangan, niat yang sungguh-sungguh dan tentunya lebih mendekatkan diri pada sang Khaliq.

daftar bisnis ustad yusuf mansur