Minggu

SEDEKAH TUKANG TAMBAL BAN



Telah berkhutbah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam kepada kami dan berkata: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.” (HR. Muslim)

Sedekah Tukang Tambal Ban Mengantarkan Naik Haji

Suparman (biasa dipanggil mas parman) adalah seorang tukang tambal ban, yang sering kali terkena obrakan aparat kamtib, sebab lapaknya berada di trotoar jalan. Suatu ketika, di pagi hari, ada seorang temannya yang mampir ke tempatnya bekerja.

        Ketika mereka asyik berbicara, tiba-tiba seorang pengemis datang meminta-minta. Mas parman merasa terganggu dengan kehadiran si pengemis tersebut. Dia menolaknya, dan pengemis itu pun berlalu. Demkian berturut-turut hingga ada beberapa pengemis yang selalu ditolaknya.
        Temannya bertanya, “Disini banyak pengemis yang datang ya?”
        “Wah kalau dituruti, sehari bisa puluhan orang. Saya selalu menolak mereka. Buat apa mengajari orang malas.” Kata mas Parman.
        Temannya diam sejenak, lalu berkata, “Kalau boleh berpendapat, sebaiknya jika ada pengemis, jangan ditolak. Meskipun hanya seratus perak, berikanlah kepadanya.”

        Mas Parman tersenyum kecut dan menanggapi dengan sikap dingin. “Pengemis sekarang bukanlah orang yang benar-benar miskin. Di daerahnya, mereka memiliki rumah besar, ternak banyak, dan sawah luas. Mengemis dibuat sebagai mata pencaharian. Jika menuruti pengemis, bisa bangkrut aku. Sedangkan sejak pagi, tak satupun kendaraan yang berhenti untuk mengisi angin atau minta ditambal.”

        Temanya berusaha menasihati dengan bijak, “Berpikir begitu boleh-boleh saja. Tetapi saya tetap yakin bahwa bersedekah itu lebih bermanfaat dan menguntungkan diri-sendiri. Dia Sudah bersedekah bertahun-tahun lamanya.

        “Kamu berbicara begitu karena memang sudah pantas bersedekah, sebab penghasilanmu besar, punya mobil dan rumah bagus. Sedangkan aku?! Hanya seorang tukang tambal ban, tidak punya harta berlebih, malah selalu kekurangan.”

        “Aku dulu juga seperti dirimu... kau tahu kan? Kehidupanku compang-camping. Hari ini makan, besok gigit jari. Tapi aku tidak pernah berhenti bersedekah. Maaf ini bukan pamer atau membanggakan diri, tetapi maksudku berbagi pengalaman denganmu. Setiap ke masjid, aku selalu memasukkan uang meskipun hanya recehan. Setiap ada pengemis datang selalu kuberi jika memang masih ada uang, tetapi bila tidak ada... air minum saja juga sudah sangat senang. Itu kulakukan secara istiqomah. Dan sungguh, aku mengalami sebuah kejadian luar biasa. Rejekiku sangat lancar, setiap ada rencana selalu berhasil, setiap transaksi selalu sukses, apa saja yang kulakukan selalu membawa berkah hingga kamu lihat sendiri seperti sekarang ini.” Kata temannya itu menambahkan.

        Mas Parman tidak segera menjawab. Dia tampaknya sedang berpikir. Temanya lalu berkata lagi, “Memberi sedekah tidak harus kepada pengemis. Kamu bisa mengeluarkan tanganmu kepada saudara atau siapa saja asalkan ikhlas.”
        “Benar.... dan sedekah yang lebih tinggi harganya ialah ketika dirimu dalam keadaan sempit. Jangan menunggu kaya baru bersedekah. Saat sekarang ini kamu harus memulainya.” Begitu temannya dengan bijak dan mengena memberikan saran.

        Mas Parman mulai bisa menangkap makna memberi, dari kata-kata temannya tadi terutama kondisi dulu yang menyatakan kalau dirinya  juga berawal dari orang yang tidak punya karena tidak punya pekerjaan tetap. Maka dia pantas dipercaya karena keadaanya memang sudah mapan dibandingkan dengan dirinya.

        Keesokan harinya mas Parman mulai menyediakan uang recehan. Selama uang recehan masih ada, ia tidak pernah menolak pengemis yang datang. Kecuali jika sudah habis jatahnya baru ia menolaknya, bahkan setiap pergi ke masjid dia tidak pernah melupakan sedekah ke kotak infaq.

        Semenjak itu rejekinya lancar. Setiap hari sejak pagi hingga petang sambung menyambung motor yang berhenti minta ditambalkan atau sekedar mengisi angin. Bahkan dua keponakannya yang menganggur diajaknya membantu pekerjaan itu.

        Sekarang mas Parman sudah memiliki tabungan. Dari tabungannya dia mampu menyewa tempat dan membangunnya meskipun tidak permanen. Sehingga dia kini bekerja dengan tenang tidak harus dikejar-kejar polisi pamong praja.

        Seiring waktu, Mas Parman tidak hanya melayani jasa menambal ban atau mengisi angin. Tetapi berkembang menjadi sebuah usaha ban vulkanisir. Bahkan dia mempunyai puluhan pelanggan perusahaan jasa angkut. Kalau dulu dia menerima uang receh dari pelanggannya. Sekarang dia menerima cek dari perusahaan sebagai pembayaran ban vulkanisir. Anak buahnya semakin bertambah.

Keadaan hidup Mas Parman telah mapan.
Dia bisa membeli rumah dan mobil. Setiap tahun zakat malnya
dibagikan di kampung halamanya untuk orang-orang miskin
dan yatim piatu. Bahkan dia bisa berangkat haji bersama
ibu dan istrinya. Subhanallah.

daftar bisnis ustad yusuf mansur