Rabu

SEDEKAH SEPEDA 600 RIBU DIGANTI ALLAH 60 JUTA



Namanya Burhan, seorang tukang jahit keliling yang sangat ingin bisa berhaji, tetapi dia sangat miskin dan hidupnya serba kekurangan. Suatu ketika dia pergi ke sebuah pengajian. Pada akhir dari pengajian, sang kyai yang memimpin pengajian tersebut mengatakan bahwa majelis mereka sedang membutuhkan dana.

Maka sang kyai bertanya, “Siapa yang bersedia membantu majelis ini?”

Serta-merta para peserta majelis menyerahkan harta mereka. Ada yang menyedekahkan uangnya, ada yang langsung menyedekahkan jam tangannya, semua berlomba-lomba bersedekah kecuali tukang jahit keliling tersebut. Hal ini karena dia tidak memiliki apa-apa yang bisa disedekahkan.

Pikiranya, “Ya Allah, aku tidak punya apa-apa untuk disedekahkan, semoga niatku datang kesini tetap Engkau catat sebagai amal ibadah.”

Ketika dia mau pulang dan menaiki sepedah bututnya sontak dia teringat “Ya Allah, salah kalau aku bisa bersedekah... Aku masih memiliki harta ini untuk disedekahkan.”

Maka pulanglah dia kerumah untuk membicarakan niatnya tadi dengan istrinya. Apa kata istrinya? “Sepeda itu milikmu, kalau mau menjualnya silahkan, aku hanya bisa berdoa semoga barokah.”

Akhirnya sepeda itu di jual dan laku Rp. 600 ribu. Setelah itu dia ke rumah sanga kyai untuk menyedekahkan 200 ribu kepadanya.

“Kyai, ini sedekah saya, mudah-mudahan saya bisa naik haji,” kata pak Burhan si tukang jahit keliling. Kyai paham kalau tukang jahit keliling ini miskin lalu dia bilang, “Sudahlah, kamu lebih membutuhkan uang itu, pakai sendiri saja uang ini.” Jawab sang kyai.

“Tidak pak Kyai, saya sudah niat untuk menyedekahkan harta saya ini.” Jawab pak Burhan. Sang kyai terus menolak tapi pak Burhan terus mendesak hingga akhirnya diterimalah uang tersebut oleh sang kyai dan pulanglah pak Burhan ke rumah. Namun baru sampai di halaman rumah sang kyai, pak Burhan teringat dengan firman Allah yang menyatakan :
“Tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna seorang mukmin sebelum menyedekahkan harta yang paling dicintainya.”

Karena dia paham agama maka kembalilah dia menghadap sang kyai tersebut dan berkata, “Kyai, ini masih ada Rp 400 ribu, saya sedekahkan semua untuk kyai.”

Menangislah sang kyai mendengar perkataan si tukang jahit keliling yang miskin itu dan menerima uang itu sambil berkata, “Ya Allah, dihadapanmu ini telah datang hambamu yang saleh... Maka berkatilah dia, semoga Allah menepati janjinya, siapa yang memberi satu akan dibalas berpuluh-puluh kali lipat.”

Berminggu-minggu pak Burhan menjalani aktivitasnya yang berat tanpa sepeda buntut kesayangannya, dia harus berjalan di bawah terik matahari, bergantung di bis-bis kota yang pengap, dan berkeringat karena panas dan berdesakan. Namanya manusia, iman pasti sedikit goyah. Sempat hati kelinya berbisik, “Yah, seandainya sepeda itu tidak aku sedekahkan pasti gak kayak gini, aku kan miskin.” Tetapi anggapan itu selalu ditepisnya, “Akh, biar Allah yang menggantinya.”

Suatu hari ketika pak Burhan sedang duduk-duduk di beranda rumahnya, ada seorang pengendara mobil berhenti di depan rumahnya lalu turun, dan bertanya, “Pak, tanah yang didepan ini milik siapa, Bapak tahu? “ Si tukang jahit itu pun memberitahu alamat rumahnya. Orang itu berterimakasih lalu pergi.

Beberapa hari setelah itu, si pengendara mobil datang lagi. Kali ini si pengendara mobil tanpa basa-basi langsung menucapkan terimakasih dan mengatakan, “Terimakasih, tanah itu sudah saya beli dan sesuai dengan harga saya. Saya sudah janji kepada Allah, kalau tanah itu terbeli dengan harga saya, maka orang yang saya tanya akan saya jadikan perantaranya.”

“Ini ada sedikit kelebihan dana, semoga bermanfaat untuk Bapak.” Kata si pengendara mobil sambil menyerahkan sebuah amplop. Diterimalah amplop tersebut oleh si tukang jahit keliling, dan setelah dibuka isinya berupa cek. Subhanallah, bersujud dan menangislah dia melihat nominal yang tertera di cek tersebut Rp. 67 juta. Sedekahnya oleh Allah dilipatgandakan dari 600 ribu menjadi 60 juta dan sepeda bututnya dikembalikan oleh Allah dengan kelebihan yang 7 juta tersebut.

Dengan uang sebanyak itu dia bisa berangkat haji bukan
Hanya seorang diri tapi bersama juga dengan istri dan ibunya.
Pada saat itu (tahun 1990-an), ongkos naik haji hanya sekitar
Rp. 17 jutaan. Maka benarlah semua firman Allah itu,
Bahwa dengan bersedekah di jalan Allah, Insya Allah akan selalu
Mendapatkan kebaikan dari-Nya.


daftar bisnis ustad yusuf mansur