Minggu

BERSEDEKAH MEMBAWA TUKANG BECAK KE BAITULLAH



Ikhlas bersedekah mengantarkan tukang becak ke tanah suci bersama keluarganya

        Pak tugiman adalah seorang tukang becak miskin. Dia hanya punya tempat tinggal, dan itupun kost di tempat yang kumuh, yang gentengnya selalu bocor bila hujan turun. Meski begitu, pak tugiman memiliki budi yang sangat mulia. Kemiskinan yang membatasi kehidupannya, tidak menutup mata batinnya untuk selalu berbagi kepada sesama.

        Namun karena harta yang dimilikinya tidak seberapa, maka yang bisa dilakukan pak tugiman adalah memberikan “sedekah jasa.” Yaitu di setiap jum’at ia menggratiskan semua penumpang yang naik becaknya.
Pak tugiman melakukan dengan ikhlas tanpa
Mengharapkan imbalan apapun atas “sedekah”nya itu.
Maka, atas kebaikannya itulah, suatu “keberkahan hidup”
Kemudian datang menghampirinya.

        Suatu ketika, di hari jum’at pertama bulan ramadhan, tiba-tiba ada seorang pengusaha kaya raya yang mobilnya mogok. Kebetulan mogoknya tidak jauh dari pangkalan becak pak tugiman. Pengusaha itu pun bertanya pada sopirnya, “kalau naik becak ongkosnya kira-kira berapa ya?”
        “paling juga dua sampai tiga ribu.” Jawab si sopir ke pada majikannya.

        Pengusaha itupun memutuskan naik becak karena sebenarnya jarak dirinya dengan rumahnya sudah lumayan dekat. Maka, dipanggilah tukang becak yang ada di pangkalan tersebut dan kebetulan pak tugiman yang datang. Lalu pak tugiman pun mengayuh becaknya dengan penuh semangat untuk mengantarkan pengusaha kaya tersebut ke rumahnya. Setelah sampai di tempat, pak tugiman dikasih uang 10 ribu dan tak usah dikembalikan. Namun pak tugiman menolak pembayaran itu.

        “kenapa bapak menolaknya?” Tanya pengusaha kaya itu.
        “saya sudah meniatkan dari dulu, kalau setiap jum’at saya menggratiskan semua penumpang yang naik becak saya.” Jawabnya jujur.

        Setelah itu, pak tugiman pun pergi meninggalkan rumah pengusaha kaya tersebut. Rupanya kejadian tersebut sangat membekas di hati si pengusaha kaya tersebut. Pengusaha kaya seperti dirinya saja tidak pernah bersedekah, ini orang miskin malah melakukannya dengan begitu tulus. Lalu dikejarlah pak Tugiman. Setelah dapat, pak Tugiman pun diberinya uang satu juta. Pengusaha kaya itu pikir pak Tugiman akan menerimanya karena uangnya besar. Tapi pak Tugiman tetap menolaknya.

        Lalu dinaikkan lagi menjadi dua juta, dan tetap pak Tugiman menolaknya. Alasan pak Tugiman sama : dia tidak menerima uang sepeser pun di hari jum’at untuk jasa ojek becaknya. Sebab dia sudah meniatkanya untuk bersedekah.

        Tapi, hal itu justru membuat pengusaha kaya tersebut semakin penasaran. Maka Jum’at berikutnya (masih di bulan Ramadhan) pengusaha kaya itupun naik becak lagi. Ia sengaja meninggalkan sopirnya untuk pulang ke rumah sendiri dan dia lebih memilih untuk berhenti di pangkalan itu untuk bisa naik becak pak Tugiman. Maka diantarlah pengusaha kaya tersebut ke rumahnya oleh pak Tugiman.

        Setelah sampai, pak Tugiman pun diberikan uang yang lebih besar lagi, kali ini sepuluh juta. Pengusaha kaya itu berpikir pak Tugiman pasti akan tergoda oleh uang sebanyak itu. Namun, lagi-lagi perkirannya meleset. Pak Tugiman sekali lagi menolak uang yang bagi dirinya sebenarnya sangat besar itu. Apalagi, sebentar lagi akan lebaran dan uang itu pasti akan sangat berguna bagi dirinya dan keluarganya. Tapi, pak Tugiman tetap menolaknya dengan halus.

        Kejadian ini benar-benar membuat si pengusaha kaya tersebut tidak mengerti. Kenapa orang miskin seperti pak Tugiman tidak mau menerima uang sebesar itu? Padahal uang itu bisa ia gunakan selama berbulan-bulan. Namun, rasa penasaran pengusaha kaya itu rupanya tidak pernah berhenti. Jum’at berikutnya ia pun naik becaknya pak Tugiman lagi. Namun kali ini dia minta diantarkan ke tempat yang lain.

        “Pak, antarkan saya ke rumah bapak.” Pinta si pengusaha kaya.
        “Mengapa ada apa, Pak?” Jawab pak Tugiman polos.
        “Pokoknya antarkan saya saja.”

        Akhirnya, pak Tugiman terpaksa mengantarkan pengusaha kaya tersebut ke rumahnya. Mungkin orang kaya itu ingin menguji apakah tukang becak ini benar-benar miskin atau tidak.

        Mereka pun akhirnya sampai di rumah pak Tugiman. Betapa terkejutnya pengusaha kaya tersebut, karena rumahnya yang dimaksud hanyalah sebuah rumah kost yang jelek. Gentengnya sudah banyak yang bolong disana-sini. Karena sangat itu melihat keadaan itu, pengusaha itu pun merogoh uangnya sebesar 25 juta.

        “Ini pak, uang sekedarnya dari saya. Mohon bapak menerimanya.” Pinta pengusaha kaya kepada pak Tugiman.

        Apa reaksi pak Tugiman? Ternyata dengan halus ia tetap menolaknya. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan si pengusaha kaya itu. Bagaimana bisa orang semiskin dia menolak pemberian sebesar 25 juta? Pastilah dia itu manusia yang luar biasa, yang memiliki budi yang sangat luhur.

        Akhirnya pengusaha kaya itupun menyerah. Dia benar-benar kalah dengan ketulusan hati pak Tugiman. Ia percaya bahwa apa yang dilakukan pak Tugiman benar-benar tulus dari hatinya. Ia benar-benar tidak tergoda oleh indahnya dunia dan kilaunya uang jutaan rupiah. Mungkin ia adalah satu pribadi yang sangat langka yang jarang ada di muka bumi ini. Luar biasa!

        Tapi, pengusaha kaya itu berjanji bahwa suatu saat ia akan memberikan yang terbaik buat tukang becak yang berhati mulia tersebut. Sebab, mungkin baru kali ini hatinya terusik lalu disadarkan oleh orang miskin yang hanya seorang tukang becak.

        Dan waktu pun terus berlalu.
        Lebaran telah tiba. Pak Tugiman dan pengusaha kaya itu sudah tidak bertemu lagi. Menjelang lebaran haji (Idhul Adha), pegusaha kaya itu kembali menemui pak Tugiman di rumah kostnya. Kembai ia pun datang hari Jum’at. Mudah-mudahan kali ini niatnya tidak sia-sia. Setelah mereka bertemu, di depan pak Tugiman pengusaha kaya itu kemudian bicara terus terang,
        “Pak, mohon kali ini niat baik saya diterima. Bapak, istri, serta anak bapak akan saya berangkatkan haji ke tanah suci.

        Sekali lagi, mohon bapak menerima niat baik saya ini.”
        Pak Tugiman menangis di depan istri dan anak semata wayangnya. Pergi ke Makkah saja tidak pernah ia bayangkan sejak dulu. Apalagi ia dan keluarganya akan diberangkatkan naik Haji. Ini benar-benar hadiah yang sangat luar biasa dari Allah SWT. Tawaran pengusaha kaya itu pun diterima pak Tugiman dengan hati yang tulus.

Maka pak Tugiman dan keluarganya pun akhirnya
 Pergi haji. Ya, seorang tukang becak yang miskin tapi memilik
 Hati yang sangat mulia akhirnya bisa melihat keagungan Ka’bah
Di Makkah al-Mukarramah dan makam nabi Muhammad SAW
Di Madinah. Kebaikannya dibalas oleh Allah. Ia menolak
 Satu, dua juta, 10 juta, hingga 25 juta. Tapi Allah menggantinya
Dengan berkunjung ke Baitullah, bersama istri dan anaknya!
Jadi, berapa kelipatan keberkahan yang didapatkan pak
Tugiman karena sedekah yang ia lakukan setiap hari Jum’at?!
Subhanallah!

        Bahkan, tidak saja dihajikan secara geratis, pak Tugiman akhirnya dibuatkan rumah oleh pengusaha kaya tersebut. Maka semakin berkahlah hidup si tukang becak berhati mulia tersebut. Dan sejak itu, pak Tugiman pun bisa tinggal di sebuah tempat yang nyaman dan tidak memikirkan lagi uang untuk kost di bulan berikutnya.


daftar bisnis ustad yusuf mansur