Rabu

SYUKUR TAK SEKEDAR ALHAMDULILLAH!



Rezeki yang kita terima selama ini merupakan pemberian dan karunia Allah Swt. Karunia Allah Swt yang berupa rezeki itu pada hakikatnya berwujud dalam berbagai bentuk, ada yang nyata dan ada pula yang kasat mata. Mulai dari kita lahir hingga sekarang alangkah banyak rezeki yang kita terima dan tak terhitung, rezeki tersebut adalah nikmat yang patut kita syukuri. Rezeki dan nikmat yang telah Allah Swt berikan selama ini tidak mampu kita menghitungny, mulai dari kesehatan, pekerjaan, bahagia, senang, tenteram, dan sebagainya. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah Swt, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya, Allah Swt benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl [16]: 18)

Ayat di atas menunjukkan bahwa nikmat-Nya sungguh tak ternilai, bahkan jika kita menghitung-hitung nikmat tersebut maka bilangan angka yang ada tak akan cukup untuk menuliskannya. Atas nikmat yang amat banyak ini, Allah Swt tidak menyuruh hamba-Nya apa-apa melainkan hanya bersyukur terhadap nikmat tersebut. Apabila kita bersyukur dan pandai mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan, baik berupa nikmat nyawa, nikmat sehat, nikmat kaya, nikmat makanan, dan berbagai kenikmatan lainnya, Allah Swt pun malah menjanjikan akan menambah nikmat-Nya kepada kita.

Sungguh beruntung orang yang mau bersyukur. Akan tetapi, tidak sedikit pula orang yang telah diberi nikmat tidak mau berterima kasih atau bersyukur atas nikmat-Nya, malah terkadang ungkapan cacian dan keluh kesah kerap kali keluar dari mulutnya terhadap Tuhan Sang Maha Pemberi. Alangkah buruk tabiat orang yang tidak mau bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diterimanya, mereka inilah orang-orang kufur yang mendapat janji balasan yang amat pedih dari Allah Swt. Firman Allah Swt dalam surat Ibrahim ayat 7:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu memungkiri (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]” 7)

Ayat di atas mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kita terima sebagai karunia pemberian Allah Swt kepada kita. Disamping perintah untuk bersyukur, kita juga diingatkan bahwa kenikmatan pun bisa menjadi musibah bila kita tidak mau bersyukur. Sungguh banyak orang kaya yang masuk surga Allah Swt karena hartanya dan sungguh banyak pula orang kaya yang masuk neraka karena hartanya, semua itu tergantung bagaimana cara mereka memperlakukan dan mengelola hartanya. Alangkah banyak contoh dari kisah-kisah al-Qur’an tentang hamba yang bersyukur maupun hamba yang kufur atas nikmat Allah Swt.

Contoh nyata tentang hamba yang kufur atas nikmat Allah Swt adalah kisah Qarun. Pada awalnya, Qarun adalah seorang ahli ibadah yang sangat rajin. Qarun adalah sepupu Nabi Musa As, dahulunya dia sangat miskin dan mempunyai anak yang sangat banyak. Karena tidak sanggup menghadapi beban hidup, Qarun meminta Nabi Musa As agar mendoakannya kepada Allah Swt agar diberi kekayaan harta benda, dan Allah Swt pun mengabulkannya. Harta benda yang dimiliki Qarun sangat banyak dan melimpah, mulai dari emas, perak yang disimpan di gudang-gudangnya. Bahkan, kunci-kunci gudangnya sangat banyak dan tidak mampu dibawa oleh satu orang. Akan tetapi, kekayaan melimpah yang diberikan oleh Allah Swt kepada Qarun tidak membuatnya semakin bersyukur, ia malah ingkar terhadap Allah Swt atas nikmat yang telah diberikan, hingga akhirnya ia mendapat azab ditenggelamkan bersama harta-harta yang dicintainya oleh Allah Swt.

“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah Swt sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta…” (QS. Al-Qashash [28]: 78)

Adapun contoh hamba yang bersyukur kepada Allah Swt atas nikmat yang diberikan kepadanya adalah Luqman. Luqman adalah seorang hamba Allah Swt yang taat dan patuh atas segala perintah-Nya sehingga ia namanya menjadi salah satu nama surat dalam al-Qur’an karena banyak pelajaran yang dapat diambil dalam kisahnya. Saat Luqman diberi nikmat dan ilmu pengetahuan, ia tetap bersyukur atas nikmat yang diterimanya itu. Luqman tahu bahwa manfaat bersyukur sejatinya kembali pada dirinya sendiri karena meskipun seluruh hamba tidak bersyukur, Allah Swt tetap Maha Kaya dan Maha Terpuji. Luqman pun tak lupa memberikan nasihat-nasihat yang baik kepada anak-anaknya, nasihat tersebut hendaknya ditiru oleh orang tua pada masa sekarang ini. Kisah Luqman sebagai hamba yang bersyukur terdapat pada surat Luqman [31] ayat 12:

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah Swt dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman [31]: 12)