Kamis

MIMPI, MINTA dan BERGERAK



Bangun impian …
Lalu minta sama Allah yang Maha Menggenggam Setiap Impian
Kemudian visualisasikan dan aktualisasikan mimpi-mimpi itu …

Tidak bosan saya katakan pada saudara, punyai keinginan, punyai impian, minta, dan bergeraklah. Dalam bab ini dan selanjutnya, saya akan menjelaskan tentang proses bagaimana kita menuangkan, mengaktualisasikan mimpi. Impian ini perlu ada aktualisasinya. Visualisasi ini ya sebenarnya sebuah istilah, intinya sih kita membayangkan yang positif.

Saya bisa ngasih contoh kepada saudara. Saudara pengen punya mobil, tapi belum ada tahunnya, belum ada warnanya, belum ada jenisnya. Kira-kira doanya enak ga? Ga enak kan? Akan lebih enak kalu saudara punya jenis mobil apa yang saudara inginkan. “Saya pengen mobil kijang warna silver dan mercy warna hitam tahun 2011.”

Saudara ingin jodoh, saudara doa nih sama Allah. “Bismillahirrahmanirrahiim, ya Allah saya pengen nikah ya Rabb… Cuma satu, jodohnya belum ada. Dua, duitnya apalagi ya Rabb. Tapi kan Engkau yang bisa munculin jodohnya, Engkau yang bisa munculin duitnya. Urus dah. Mudah-mudahan saya dapat dua-duanya, jodoh iya, duitnya iya.” Subhanallah … keren kan? Tapi lebih keren lagi udah ada namanya tuh. Ada Maisaroh, ada Masitoh, ada Septi, lalu bilang sama Allah, dari 3 yang ini yang mana ya Allah. Insya Allah ga ada yang cocok sama ente. Allah munculin lagi satu nama di sini, Siti Humairoh misalkan. Hehehe…

Beri aktualisasi, beri visualisasi pada mimpi saudara, dan jangan lupa beri connection, ada sambungan. Sambungan tuh gimana, ustadz? Saudara ditanya nih, “Apa yang paling saudara ingin saat ini?”

Terus saudara bilang, “Saya pengen punya cucian mobil, ustadz.” Udah mulai bagus nih.

Jangan sampai saudara kalau ditanya sama orang, “apa sih yang ente pengenin?”

“Gue sih ga pengen punya apa-apa dah, ga ada, udah kelar urusannya.” Wah udah hebat dong, ya bagus deh udah nyampe namanya, tinggal meninggal. Orang hidup itu harus punya keinginanlah, kalau memang buat saudara sendiri udah selesai, tapi buat tetangga gimana?

Saya tuh ga demen sama orang yang ngomongnya, “Wah, saya sih udah cukup ustadz, ga punya lagi deh permintaan sama Allah, pengennya syukur aja.” Jangan bos! Tetangga masih pada miskin, ngomong dong sama Allah urusan yang lain kalau memang urusan ente udah selesai, “Ya Allah saya sih sudah cukup deh, sudah ada usaha rumah makan. Tapi saya pengen punya rumah makan yang kedua ya Allah. Supaya ada lagi orang yang saya pekerjakan disana.”

Coba saudara perhatikan, impiannya sudah ada, yaitu pengen punya cucian mobil. Lalu sudah di upgrade, pengen deh punya 100 cucian mobil. Yang penting saudara tahu diri, jangan minta semuanya ada di bulan ini. Walaupun mungkin saja sih buat Allah, apa sih yang ga mungkin? Cuma ente nanti dijitak malaikat. Minta itu proses bos! Makanya saya bilang, minta tuh boleh tinggi, tapi hati kita tetep tau diri, reasonable gitu.

Kita bisa pikiran yang rasional, terukur dan terarah. Disebut terukur dan terarah itu begini contohnya, “Ya Allah, saya pengen punya 100 cucian mobil. Tapi buat tahun ini satu aja dulu deh ya Allah.” Nah itu dia. Satu aja dulu. Nanti kalau sudah jalan nih, minta lagi supaya nambah satu, satu, satu, sampai dalam 5 tahun 100 cabangnya terpenuhi. You will get it, ana bakal dapat Insya Allah.

Mimpi, minta, bergerak. Pada saat mimpi saja, anda harus ada aktualisasinya, ada visualisasinya, ada connecting. Maksudnya aktualisasi tuh gimana, ustadz? Visualisasi tuh gimana? Saudara belajarlah, ya terkait dengan cucian mobil, saudara googling misalkan, kalo nyuci mobil, bagaimana caranya. Nanti ada jenis-jenisnya tuh, ada yang pake air, ada yang pake salju, ada yang ga pake apa gitu, ada yang pake air panas.

Terus, mulai saudara bikin sambungannya. Saudara udah tau dong cucian mobil kayak gimana, tapi tentuin juga saudara mau bikin yang kelas apa? Ada yang cumA modal selang doang sama empang, ente modal kanebo atau kain lap begitu, ada yang kemudian bisa naik ke atas, disteam maksudnya. Ada visualnya, saudara maunya yang seperti apa?

Kemudian connecting-nya, connecting tuh apa sih? Macem-macem nih connectingnya, saudara datang ke tukang cuci mobil, “ada yang bisa dibantu, pak? Mau dicuci mobilnya?”
“Ga, pak, saya mau lihat-lihat aja.”
“lihat-lihat apaan?”
“Ya mau ngeliat bapak nyuci mobil nih.”
Apa kata bosnya, “daripada kamu Cuma lihat-lihat doang, bantu sini, lumayan satu hari kita bayar ke kamu 20% dari nilai cucian mobil yang bersihnya. Gimana?”
“Saya sudah kerja pak.”
“Hari apa kamu liburnya?”
“hari sabtu minggu pak”
“ya sudah, sabtu minggu kemari.”

Nah itu mulai ada connecting tuh, paham ga? Mulai ada connecting tuh disitu, saudara langsung datang aja sabtu minggunya. Tanpa si majikan itu tahu, kita lagi mentransfer energy supaya bisa punya cucian mobil.


Hidup ini memang aneh, saya sih menyebutnya ajaib ya. Ada temen kami, setiap jumat dia ngosongin dompetnya. Dia beli roti sebanyak uang yang ada di hari jumat itu. Dan itu berlangsung selama 2 tahun berturut-turut. Tiap jumat seperti itu. Nah, di 2 tahun itu juga dia berkawan sama seorang pengusaha property. Dia temenin kemana-mana pengusaha property itu, sampai beresin tanah, bikin ruko, kemana aja dan ngapain aja ditemenin. Lalu kemudian di tahun ke-2 temennya itu ngomong begini, “Aku nih sebenarnya bukan Cuma niat, tapi udah nyisihin buat kamu. Dari setiap proyek kita, ada bagian buat kamu. Nah, setelah jalan 2 tahun kita berteman, bergaul, dan berusaha, nih ada duit kamu di saya 1,3 milyar rupiah. Kamu mau terima duitnya atau kita jadiin usaha?

Apa kata temen saya yang tiap jumat itu sedekah roti? “Jadiin usaha aja deh, terserah usahanya apa, saya mah ngikut aja. Udah 2 tahun ini kan saya ngikut terus.”

Apa kata pengusaha property itu, “Oke, percaya sama saya ya.”
“Percaya.”

Saudara tahu apa yang terjadi? Sama tuh pengusaha uang 1,3 M tadi dibeliin pabrik roti lengkap dengan mesinnya, dengan etalasenya, dengan konsep-konsepnya, dengan warnanya dan segala macemnya, bahkan dengan karyawannya. Saya kemudian dateng ke sana untuk meresmikan dia punya pabrik roti. Allahumma sholli’alaa Sayyidina Muhammad wa’alaa ali Sayyidina Muhammad.

Tapi ada juga orang yang merencanakan. Kalau bisa, saudara adalah bagian orang yang merencanakan. Kenapa saya bilang kalau saudara menjadi bagian yang merencanakan?

Karena di dalamnya ada keberkahan dan ibadah. Kalau ente ngelihat rumah tuh, Cuma “aduh tuh rumah dijual tuh, hmm, kalau bisa tinggal di situ enak bnget ya.” Udah. Kosong tuh, ga ada ibadahnya di situ. Coba kalau ente tambahin sedikit aja, “Ya Allah kalau saya…” nah, ada ‘Ya Allah nya’ udah jadi ibadah tuh. Apalagi kemudian dhuha, shalat berjamaah, kemudian tahajud, terus ente bisa sedekah senilai misalkan 10% dari rumah itu, atau 2,5% dari rumah itu. Nah ini, belum kebeli aja ente udah hidup berkah. Belum kebeli aja ente udah banyak pahalanya. Subhanallah. Insya Allah.

Lanjut ke cerita tentang seorang yang pengen punya cucian mobil. Dia datang kepada pemilik cucian mobil, dia bilang, “Boleh ga saya kerja di sini, pak. Bantu-bantu di sini. Setiap sabtu dan minggu saja.”
“oh, boleh-boleh. Siapa nama kamu?”
“Yusuf Mansur, pak.”
“Ya sudah datang besok sabtu ya.”
“Iya pak, terima kasih.”

Udah ada tuh koneksitas. Udah ada koneksitas bukan Cuma visualisasi tapi ini menjadi aktualisasi anda semua. Saudara yang punya mimpi, coba connectingnya dibikin. Setiap datang satu mobil, ente cuci sambil bersholawat, “Ya nabi salam ‘alaika Ya Rasul salam ‘alaika, sholawatullah ‘alaika.” Dibikin riang. Wah mantep itu. Ente berdoa. Ente nyuci mobil pelanggan-pelanggan, dalam keadaan berwudhu. Wah, keren. Jam 11.30 ente sudah berkemas-kemas.

“Mau kemana brur?”
“Mau mandi sebentar, mau ngadep Allah.”
“Wuih hebat nih karyawan baru. Top. Rajin shalatnya. Gue titip doa ya.”

Udah. Emang kerjaan kita begitu, masa sama Allah katanya titip salam, “titip salam dulu ya sama Allah.” Bercanda aja ente kalau temen mau shalat, titip salam. Gaji mau lo, shalat kagak. Beuh. Ente dah.

Nah ketika doa, dia bilang begini, “Ya Rabb jika sebelumnya saya berdoa di kamar saya, yang jauh dari pusaran energy cucian mobil ini, sekarang saya berdoa di sini Ya Allah. Takdirkan saya bisa memiliki ini Ya Rabb. Takdirkan saya bisa memiliki ini. Takdirkan saya memiliki ini.”

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal;9-10)

Dan tidak ada pertolongan kecuali dari sisi Allah. Tidak ada kemenangan kecuali dari sisi Allah. Tidak ada keberhasilah kecuali dari sisi Allah. Nah, ini yang menjaga kita, yang membedakan kita dengan para pemimpin yang mendasarkan dirinya kepada diri dan alam. Semua itu dari Allah. Di sisi Allah.


daftar bisnis ustad yusuf mansur