Rabu

KEAJAIBAN SEDEKAH DAN REZEKI BERLIMPAH RUAH



Saat itu, Lihan (34 tahun) hendak menyelenggarakan halal bihalal dengan 1428 anak yatim dan panti asuhan di Banjarmasin. Ia akan mengundang seorang ustadz kondang dari jakarta. Namun, sampai menjelang hari H, uang belum tersedia. Hatinya makin galau ketika pihak event organizer meminta kepastian. Iseng-iseng, ia pergi ke bank mengecek rekening. Ajaib, ada uang Rp. 1 miliar di dalamnya. Ia mengecek ke petugas bank kalau-kalau ada salah transfer, ternyata tidak.

Namun, nama pengirimnya “gelap”. Tak hanya sekali saja. Keesokan harinya, uangnya bertambah Rp. 1 miliar lagi. “Sampai saat ini, orang yang mengirim uang ke rekaning saya tidak tahu,” ujarnya. Padahal untuk membiayai acaranya, ia hanya butuh uang Rp. 200 juta.

Itulah penggalan kisah keajaiban sedekah yang dimuat di salah satu Koran nasional terbitan jum’at, 25 April 2008.
***
Saat itu, kondisi keuangan kami lagi sangat menipis. Situasi ekonomi dan bisnis tengah dilanda kelesuan. Harga barang-barang menjadi meningkat, sementara nilai real uang yang tersedia menjadi kecil. Pendapatan yang dulunya cukup untuk memenuhi kebutuhan, karena krisis ekonomi, menjadi tidak cukup lagi. Dalam situasi seperti itu, berhemat dan menekan kebutuhan yang kurang penting menjadi pilihan yang cukup bijaksana, selain mengupayakan sumber pendapatan lain yang bisa digali.

Di tengah keprihatinan atas kondisi krisis saat itu, suatu ketika, istri meminta tolong saya untuk mengecek saldo rekening di ATM. Seperti biasanya, saya selalu menanyakan siapa kira-kira yang akan mentransfer uang dan berapa jumlahnya. Hal tersebut dimungkinkan, mengingat beberapa hari sebelumnya istri telah memberitahukan kepada pelanggan (yang mengambil barang) kapan saat jatuh tempo pembayarannya dan berapa jumlah nominalnya. Namun kali ini, tanpa ada alasan yang rasional, istri meminta saya mengecek saldo rekening dengan alasan “siapa tahu ada pelanggan yang transfer”, padahal tidak ada satupun yang memberitahu akan transfer sejumlah dana karena belum jatuh tempo pembayaran.

Saya menjadi tidak semangat memenuhi permintaannya itu. Meski demikian, saya tetap melaksanakannya demi menjaga perasaan san membahagiakan dirinya. Ketika saya mendapat giliran melakukan transaksi di mesin ATM setelah mengantri cukup lama, saya mendapati hal yang sesuai saya duga, tidak ada penambahan apa pun di rekening istri saya.
***
Kisah saya dan Lihan di atas menampilkan fragmen kehidupan yang sama, yaitu sama-sama melakukan pengecekan atas saldo rekening ketika dihadapkan pada kesulitan keuangan. Bedanya, Lihan mendapati ada transferan dana sejumlah Rp. 2 miliar, sedangkan saya tidak mendapati transferan dana apapun, alias Rp. 0 miliar.
Kisah Lihan yang dimuat di Koran nasional itu, mengisyaratkan sebuah pesan akan keajaiban sebuah sedekah. Uang sejumlah Rp. 2 miliar yang diterima Lihan dari orang yang tidak dikenal itu adalah balasan Allah Swt atas sedekah yang dia lakukan.
Namun orang yang mengalami kisah sebaliknya, seperti saya dan istri, tidak adanya transferan dana yang spektakuler dan tanpa terduga, tidak berarti Allah Swt tidak memenuhi janji-Nya dalam membalas orang-orang yang melakukan sedekah. Saya yakin, banyak orang yang melakukan sedekah seperti halnya Lihan. Namun sangat sedikit orang yang mendapat kejutan seperti dirinya. Lantas, apakah sedekah mereka tidak menemukan pembalasannya?

Balasan Allah Swt. Atas sedekah yang dilkukan orang tidak harus berupa uang tunai. Bisa jadi berupa terhindarnya seseorang dari penyakit atau marabahaya, atau perasaan tentram di dalam jiwa, atau kehidupan yang penuh dengan keberkahan dan kemanfaatan, dan lain-lain, yang apabil dikonversi dengan uang, boleh jadi akan bernilai Rp. 1 miliar bahkan lebih.

 “Akhi, antum mau kaya gak?” Demikian seorang sahabat berujar kepada saya suatu hari. Kemudian ia melanjutkan, “Menjadi kaya itu gampang kok. Coba antum ingin uang berapa? Katakanlah Rp. 1 miliar. Berarti antum harus sedekah sebesar Rp. 100 juta, karena pahala sedekah itu akan dilipatkan minimal sepuluh kali lipat! Bahkan dalam al-Qur’an, pahala sedekah ini akan dilipatkan menjadi minimal 700 kali lipat. Ini adalah janji Allah, dan janji Allah itu pasti benar adanya.

Saya menjadi tercenung beberapa saat. Hati saya bertanya, “Apakah semudah itu?”

Saya tidak pernah menyangsikan keajaiban sedekah, tetapi saya tidak mengartikan bahwa sedekah harus berbalas dengan wujud materi. Jika memang harus demikian, tentu kita akan mendapati Rasulullah Saw yang senantias menyedekahkan seperlima dari harta rampasan perang, tentu akan memiliki harta yang berlipat. Demikian pula sahabat Abu Bakar Shiddiq yang pernah menyedekahkan seluruh hartanya, atau Umar bin Khattab yang menyedekahkan sebagian besar harta beliau, mereka tentu akan berlipat hartanya dengan sedekah yang dilakukannya. Meski demikian, kita tidak pernah menyangsikan bahwa ketaqwaan mereka sungguh teramat luar biasa. Dan mereka adalah sahabat-sahabat yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw sebagai calon penghuni surga. Subhanallah.

Sedekah adalah pembukti iman. Manakala sedekah yang dilakukan seseorang itu ikhlas tanpa mengharap apa pun selain keridhaan Allah Swt., maka sedekah yang dilakukannya menjadi saksi atas kebenaran imannya. Namun demikian, tidak sedikit kita menjumpai orang-orang yang bersedekah demi mengharap balasan dunia. Sedekah model begini, bukan justru akan menyelamatkan hidupnya, melainkan akan menjerumuskannya dalam sebuah dosa yang berakibat menghilangkan keberkahan hidup di dunia dan ancaman kehidupan yang menyengsarakn di akhirat.

Atas maraknya fenomena bersedekah seperti saat ini, sebagaimana tergambar dalam sinetron-sinetron atau kisah-kisah keajaiban sedekah, saya mensyukurinya sebagai pemacu semangat bagi orang yang memiliki kelebihan harta untuk senantiasa melakukan sedekah hartany. Namun pada sisi lain, timbul sebuh kekhawatiran, kisah-kisah itu dijadikan bukti dan legitimasi bahwa Allah Swt akan membalas sedekah secara tunai berwujud kelipatan sejumlah uang yang disedekahkan. Padahal lipatan balasan itu tidak harus berwujud demikian atau akan langsung diberikan di dunia ini.

Ada suatu kisah di mana orang yang melakukan kemaksiatan menyangka dirinya melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Ada pula kisah orang yang sedang dibiarkan dalam kesesatan menyangka dirinya mendapat kemuliaan di sisi Allah Swt. Kita patut berhati-hati menyikapi hal-hal yang serupa dengan hal ini. Oleh karenanya, janganlah bersedekah dengan mengaharap lipatan harta di dunia. Andai pun Allah Swt. Memberikan lipatan harta di dunia ini, berhati-hatilah untuk mengatakan bahwa itu adalah hasil dari sedekah yang kita lakukan. Siapa tahu Allah Swt sedang menguji kita.

Ada baiknya kita menyimak pendapat Prof. Dr. M. Mutawalli Sya’rawi bahwa rezeki itu (apa yang diperoleh manusia), seperti halnya semua takdir Allah yang lain, berjalan dengan hikmah kebijaksanaan yang tinggi yang tidak kita pahami. (Disarikan dari kisah Mulyono Rafianto).

daftar bisnis ustad yusuf mansur