Kamis

AHLI SEDEKAH



Menjadi ahli sedekah bisa saudara mulai sebelum saudara menjadi pengusaha, bahkan bisa saudara mulai ketika saudara dalam keadaan menganggur. Kalau sekarang saudara masih menjadi pekerja, berarti saudara sudah dekat menjadi pengusaha. Apa pasalnya? Pengalaman, tidak boleh juga saudara menjadi saudara pengusaha tapi tidak punya pengalaman.

Bisa jadi Saudara sekarang punya duit sekian miliar sebagai modal, tapi terlebih dahulu mulai dari menjadi cleaning service. Saudara sekarang bersihin toilet, bersihin meja kerja padahal saudara calon owner. Kenapa seperti itu? Karena saudara bisa merasakan empati, rasa perhatian, kasih sayang kepada pekerja saudara kalau nanti saudara menjadi pengusaha.

Kalau orang lahir langsung jadi pengusaha, memang kebanyakan, biasanya mempunyai sifat ’tengil’. Tapi, kalau seorang pengusaha memulai karirnya dari bawah, dari kenek dulu, hidup terlunta-lunta jadi sopir truk. Dalam 10 tahun kemudian saudara menjadi seorang pengusaha transportasi, maka dia memahami jika ada kesalahan yang diperbuat oleh bawahannya. Begitu supir telat datang, nggak langsung “Eh, kemana lu?” Tapi kita langsung datang ke  supir kita, kemudian kita tanya “bannya ada yang meletus ya ?”
       “Iya, pak, bannya ada yang meletus”, jawab sang supir.
       “Iya nggak apa-apa, saya juga dulu seperti itu  kok, terus gimana?”
       “Maaf, pak, saya jadi terlambat”

Kita yang dulu pernah jadi sopir, lalu sekarang duduk di belakang, tidak akan pernah bicara sembarangan. Tapi kalau dari kecil saudara sudah jadi orang kaya, terkadang menjadi masalah seperti omongannya nggak diatur. Makanya saya menyarankan bagi saudara yang lebih kaya dibandingkan yang lain, sekali-kali anak kita diajarkan sopan dan santun. Jangan sampai anak kita seperti tidak pernah menginjak bumi. Jadi, anak kita pun perlu sekali-kali diajak naik angkot, naik busway, naik kereta. Insya Allah, hal-hal yang seperti itu akan membuat anak-anak kita kenal dengan orang-orang kecil. Itulah prinsip  Al- Munfiqiina.

Misalnya, saudara beli motor bekas seharga 7 juta, lalu saudara mengeluarkan 00 ribu rupiah. Kapan Saudara mengeluarkan 200 ribu? Setelah laku, bukan? Nah, ini yang dirubah. Kalau saudara menjadi pengusaha apapun, entah showroom, entah pengusaha baju, pengusaha kuliner, kalau bisa sebelum laku kita sebaiknya bersedekah dahulu. Jadi sedekahnya kapan? Before, jangan after.

Kalau saudara bersedekah setelah laku, itu namanya tanda syukur, yang ini sudah tidak  perlu diomongin, memang saudara wajib keluarkan. Kalau mau hebat, kita kelurkan sedekah sebelum laku. Jadi, sedekah yang saudra keluarkan sebelum motor saudara laku menjadi modal tambahan.
      
saya belajar dari kawan saya seorang Chinese, dia beli mobil 60 juta, dia panggil stafnya, dia bilang dia mau menjual mobilnya seharga Rp 70 juta. Lalu, dia siapkan satu juta. Saya, Yusuf Mansur muda pada saat itu, saya mengamati bahwa dia belum untung tapi sudah keluar satu juta .

Saya bertanya pada seorang Chinese ini, “Kenapa koh ngeluarin satu juta? Padahal kan belum untung?”

Chinese itu menjawab “Seharusnya kalau saya jual Rp 70 juta kan saya akan mendapat untung 10 juta, nah yang 10 juta ini saya kaliin sepuluh persen jadi satu juta. Nah, satu juta in yang digunakan buat naik 10 juta.

Jadi, sebenarnya berapa jumlah keuntungannya bukan ditentukan semata-mata karena modalnya berapa dan yang laku berapa. Tidak! Tapi ditentukan salah satunya adalah melalui Al-Munfiqiina.

Saya akan meceritakan sebuah kisah, saya punya seorang teman bernama Iwan. Iwan ini adalah tukang ikan, belakangan kemudian namanya ditambah oleh Allah menjadi Haji Iwan. Sebab apa? Sebab ia mencintai apa yang namanya Al-Munfiqiina. Suatu saat saya bertemu dengan beliau, tukang ikan ini, bertanya pada saya “ Ustadz, kasih dong saya amalan yang bikin saya punya untung lebih besar, kasih dong saya amalan, wirid apa kek gitu yang bikin modal saya bertambah besar, supaya saya bisa mendapat untung lebih besar lagi.”

Pikiran dia adalah M+=K+. apa maksudnya? Modal yang bertambah sama dengan keuntungan yang bertambah. Yang macam ini, adalah cerita dunia. Inilah ekonomi kapitalis. Kalau saudara atau tambahin T nya yaitu Time. Ini semakin gila, bukan K+ malah S+, sakitnya nambah. Tapi Allah berkata lain, ada cara lain, nggak perlu menambah modal yaitu tambahin prinsip S+=K+. apa itu S+? tambah syukurnya, udah pasti untung akan bertambah.

Saya bilang pada “Iwan, berapa modal ente?” dia menjawab “Sekali angkat barang, kira-kira Rp 500 .000 atau Rp 800.000. kalau saya punya Rp 1,6 juta maka saya bisa buka dua meja, Ustadz. Kalau satu meja saya punya untung Rp.50.000, bersih, maka dua meja saya punya keuntungan menjadi Rp 100.000.”
Saya bilang “Wan, yang begini ini, kita kayak nggak punya Allah aja, Wan... gimana kalau nggak usah ente tambahan meja, ente nggak usah tambahin modal, tapi ente tambahin keuntungan bahkan lebih dari ini. Caranya, sebelum ente bawa ikan. Kan ikan itu datangnya pagi sekitar jam setengah tiga, jam tiga, dia sudah berburu ikan. Wan, ente bawa baju lebih untuk shalat. Ente shalat Shubuh dah, tambahin syukurnya, jangan sampe ente jadi pedagang tapi ente lupa shalat, lupa bersyukur sama Allah. Terus sedekah dah...”

Lalu iwan protes, “gimana ane mau sedekah, Ustadz? Nggak sedekah aja ane suma punya untung 50 ribu, gimana kalo ane sedekah?” lalu saya bilang pada Iwan “Wan, jajal (coba) dulu. Nggak mungkin Allah ga nepati janji.

Malamnya Iwan langsung sedekah lima ribu. Siang menjelang tutup, ada uang meminjam motor kepadanya, seorang anak muda. Begitu pulang anak muda ini berterima kasih, “Bang, makasih ya, ini STNK-nya, motornya udah ane isi bensin penuh.” Dari situ saja Iwan sudah untung dong, lalu apa lagi yang anak muda itu katakan? “Bang, ini anggep aja untuk sewa motor...” Berapa? Lima puluh ribu!” Allahu Akbar!


daftar bisnis ustad yusuf mansur