Senin

QUANTUM CHANGING #1

Materi satu tentang pengusaha, bertutur tentang doa. Materi dua, bertutur tetang doa, sampai sekarang barangkali saudara nggak doa-doa. Ketika bicara tentang dhuha, tentang sholat malam, tentang sholat tepat waktu, sampai sekarang saudara barangkali tidak melaksanakan dengan sepenuh hati seperti orang yang memang perlu, orang yang datang ke rumah orang kaya karena pengen memang dibantu sama orang kaya. Tidak seperti itu, kita datang kepada Allah, tidak dengan harapan.


----------------------------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------------------------



Izinkan saya berdoa dengan membaca surah Al-Fathihah. Saudara baca bareng-bareng Al-Fathihah ini mudah-mudahan menjadi doa agar Allah memberikan hidayah, taufik buat kita semua agar kita menjadi pengusaha yang shalih-shalihah, kita menjadi keluarganya Allah, mejadi kemudian pejuang Islam, berdakwah dengan  jihad ekonomi, yang mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang bermartabat, mulia, dan bisa menjaga kehormatan dan kemuliaan.

“Ya Allah, begitu mudahnya doa dan berdoa kepada-Mu ya Rabb, tapi kalau Engkau tidak bikin yang mudah ini menjadi mudah buat kami, tentu berdoa pun akan menjadi sesuatu yang sulit buat kami.”

“Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim, senantiasa beri kami kekuatan, kemampuan, kesempatan, dan keleluasaan untuk kemudian berdoa kepadaMu, untuk beribadah sebaik-baiknya. Jadikan kami, orang-orang yang berguna, orang bermanfaat buat agamaMu, buat RasulMu, buat diri kami, keluarga kami, sekitar kami, sekeliling kami, anak keturunan kami sampai yaumul qiyamain, dan buat alam ini dan segenap isinya. Robbana aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

Kemarin kita sampai pembahasan cara berpindah kuadran. Cara berpindah kuadran dengan apa caranya? Yakni dengan cara sedekah plus doa plus ibadah. Jangan mencapai impian, cita-cita, jangan jangan mengejar harapan dan keinginan, sendirian.

Qul”, Allah berfirman, “ Katakan.” “Laa amlikul linafsi dhorrow walaa naf’a. Tidak ada yang bisa kita lakukan, baik ketika kita ingin mencelakakan diri kita atau ketika ingin manfaat dari diri kita. Kita tidak punya kuasa atas diri kita.

Berkali-kali saya kemudian berdoa kepada Allah, meminta pengen mengajar bab ini, bab ini, bab ini, tapi apa yang terjadi? Ternyata omongannya jadi belok ini, belok itu, kenapa? Karena mulut ini pun bukan milik saya, tapi milik Allah Swt. Saudara yang sudah niat betul pengen belajar, pengen nongkrong di depan TV habis shubuh. Apa yang terjadi? Mati lampu, mati listrik. Semuanya tidak ada yang mampu kita lakukan. Karena itulah kita mengubah kuadran kita dengan cara-caranya Allah, yakni dengan sedekah, doa, dan ibadah. Ya, tentu saja Saudara tidak mengabaikan ilmu dong, iya kan? Belajar.

Ketika saya bercerita tentang cara berpindah kuadran, saya memualai dengan kisah saya. Ada cerita menarik yang secara tidak langsung, saya melakukan yang saya sebut dengan pindah kuadran.

Saya dagang es di terminal kalideres dengan modal 70 kantong, saya berangkat ke terminal Kalideres. Di terminal Kalideres itulah atas izin Allah, menjadi tempat pertama kali saya mengajar. Pertama kali lagi saya ceramah setelah sekian lama. Ada musholla kecil di terminal Kalideres, di belakang kantor pos polisi, di situlah saya mulai mengajar.

Saya cerita bagaimana untuk berpindah kuadran ini, ada cara-cara yang Allah kemudian ajarkan kepada kita supaya kita tidak kesulitan berpindah kuadran. Dari pemain lokal menjadi nasional, nasional jadi regional, regional jadi pemain kelas dunia, world class business man, world class trader.

Berpindah kuadran yang paling cantik adalah ketika kita bisa berpindah kuadran dari dzolim menjadi shaleh, dari bodoh mejadi alim, dari kemudian punya sifat-sifat yang bakal ditenggelamkan di neraka berpindah kuadran menjadi bisa dipindahkan Allah ke surga. Berpindah kuadran dari pengusaha level dunia menjadi pengusaha berlevel orientasi akhirat.
***
Saya melakukan pindah kuadran secara tidak sengaja. Di hari pertama 70 kantong, laku 5, sisa 65 kantong, 65 kantong ini besok paginya desedekahkan 5, tersisalah kemudian 60. 60 kantong, setelah saya sholat dhuha, tahajud dan kemudian bersedekah 5 kantong, saya pergi ke terminal Kalideres membawa 60 kantong. Termos es nih saya tenteng, berangkatlah saya ke terminal Kalideres.

Kemarin ketika jualan 70 kantong, saya datang lebih awal, earlier. Saya juga lebih awal jalan ke terminal Kalideres karena pengen cepet laku. Ternyata cara saya ini, seperti yang kita pelajari juga di bab-bab sebelumnya, ini tidak benar.

Kita harus ngerem sejenak untuk kemudian kita baca Al-Qur’an, untuk kemudian kita dhuha. Keliatannya sih kita ikhtiar tapi demi Allah, ketika kita mau baca Al-Qur’an walau se-‘ain dua ‘ain, sehalaman, dua halaman, atau malah seayat dua ayat, kemudian kita bisa dhuha walaupun Cuma dua rakaat, kita bisa dzikir sedikit saja plus shalawat sedikit saja, tapi rutin,  maka “telatnya” kita inilah yang akan berpengaruh besar pada keberhasilan kita.

Dan di hari kedua, saya kemudian atas izin Allah ini bercerita, melakukan ini (membaca Al-Qur’an, dhuha, dzikir dan shalawat rutin) plus sedekah. saya bawalah ke terminal Kalideres 60 kantong. Alhamdulillah, pembaca, datang ke terminal Kalideres kira-kira 09.30, lebih telat dari pada hari kemarin. Sampai menjelang Zhuhur, alhamdulillah, nggak ada yang laku.

Sampai sini pertanyaannya, seperti pertanyaan saudara semua, kurang apa ya? Shalat sudah, sedekah sudah, ngaji sudah, doa sudah, kurang apa? Ya, pertanyaan itu jawabannya ternyata, saya ketawa sendiri, ya kurang sabar. Ya, sabar aja dulu. Adzan berkumandang, cerita ini sebagian tau taulah, tapi insya Allah kita lihat dari sisi yang lain nanti, yakni bagaimana cara berpindah kuadran yang saya lakukan tanpa sengaja, lalau di tahapan dua dan tiga, saya lakukan dengan sengaja. Akhirnya yang terjadi apa? QUANTUM CHANGING.

Quantum changing, bangaimana kita berubah secara lompatan. Ada quantum business. Ini dia,  quantum business, quantum changing. Quantum changing ini perubahan yang sifatnya lompatan.

Saya lakukan di episode pertama ini tidak sengaja, tapi nanti di tahapan yang kedua, saya melakukannya sengaja. Lalu di tahapan ketiga, saya melakukan sengaja, dan seterusnya saya melakukan sengaja, insya Allah karena Allah.
Adzan Zhuhur berkumandang,  Allahu Akbar, Allahu Akbar. Saya berangkat datang ke musholla waktu shalat Zhuhur. Termos es saya taruh di depan musholla, terus saya masuk, wudhu, dan shalat. Rupanya saya salah taroh  termos es. Di pintu musholla saya taroh termos es. Orang datang, lepas sepatu, buka termos, ambil. Orang datang, lepas sepatu, liat termos ini es, buka, ambil. Orang pada datang, pada makan. Saya sementara asyik aja di dalem, baca ini, baca itu, termasuk baca Ali-Imran ayat 26-27, dulu saya nangis  baca ini.

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkualah segala kebijakan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (QS. Al Imran 26-27)

Ayat ini saya jadikan wirid ketika sholat. Saya bilang sama Allah Swt, “Ya Allah, ini anak muda yang di hadapanMu mau jadi apa?”

Saya ngomong gitu, persis yang saya bilang dulu. Ente nggak punya duit, nggak punya modal, nggak tahu mau ngapain, nggak tahu juga sama siapa jalannya, nggak ngerti apa-apa, dalam keadaan seperti itu datang kepada Allah, Perfecto! Sempurna!

Saya datang ke Allah, “Ya Allah, mau jadi apa ini anak muda di depan Engkau ini. Kalau memang Engkau memuliakan dia, muliakanlah. Angkat, Ya Allah. “ Terusin doa saja pakai Ali Imran 26-27 . saya nangis, saya doa, sambil saya bilang sama Allah minta ampun waktu jaya, waktu banyak duit, sudah mengabaikan Engkau.

Kemarin saya pikir bahwa 70 kantong es pasti gampang, tinggal naik bis pastinya nggak ada yang beli. Ternyata saya naik turun bis, nggak ada yang beli betulan. Cuma 5 kantong yang terjual, tau nggak yang beli siapa? Temen-temen saya. Saya punya Guru Ustadz Basuni, Bang Erman, dia yang pada beli, kasihan sama saya. Saya ngadu sama Allah susah banget nyari duit. Ini 70 kantong es kan kita ngincer 35.000, bawanya berapa? Bawanya Rp 2.500.
                                         
                                          ***
Saudara-saudara yang dirahmati Allah, ketika saya melakukan perubahan itu sendirian, hasilnya nothing, nggak ada.

Saya pulang bawa duit Rp 2.500 dengan ancaman apa? Dengan ancaman 65 kantong yang saya bawa ini bakalan basi, sebab apa? Sebab ada santan di es-nya. Rp 2.500 ini kemudian ada peristiwa yang tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya.

Saya harus memilih membeli es balok senilai Rp 1.500, lalu ongkos Rp 1.000, atau makan Rp 1.000. tidak mungkin saya melakukan tiga-tiganya. Saya harus memilih salah satu di antara yang tiga tersebut untuk saya coret. Kalau saya beli es balok, makan saya harus memilih antara ongkos atau makan. Es balok sudah nggak mungkin saya abaikan, harus dibeli karena kalau nggak, bakalan basi. 65 kantong bakalan wassalam.

Alhamdulillah, Allah memberi saya kenikmatan hidup yang luar biasa. Ketika saya bilang saya mau jalan kaki, biarin..., biar saya menghukum diri saya. Betapa bodohnya saya, ketika punya duit tidak mau bangun malam. Ketika punya duit, tidak mau sholat berjamaah. Saya hukum diri saya, kenapa ketika kemarin Allah membuka pintu hidup saya. Sebelum tahun 1999, Alhamdulillah saya punya bisnis kecil, lumayanlah begitu. Begitu punya duit banyak, dapat mobil segala macam, malah lupa sama Allah. Nggak dhuha, nggak apa gitu, subhanallah.

Eh, Alhamdulillah, begitu saya ngadep tukang es, si tukang es bilang begini, “Bayar besok juga nggak apa-apa, bang!” Nah! Alhamdulillah! Saya posisi begini, di terminal Kalideres, begitu keluar ada masjid hijau, masjid di Kalideres, di depannya tempat si tukang es. Nyebrang, ada kali, ada jembatan Hipil. Saya pernah menjadi temen-temen mereka nih dagang, Cuma pada nggak paham saja kalau dulu bakalan jadi Yusuf Mansur atas izin Allah seperti yang sekarang ini. Di depannya ada angkot, C15, jurusan Kalideres-Semanan-Ciledug. Tadinya saya niat membawa es balok ini jalan kaki sampai ke sana? Sampai ke Kampung Ketapang. Kalau jalan kaki kira-kira 40 menit. Alhamdulillah, Allah selamatkan saya. Es baloknya boleh ngutang, saya bisa makan Rp 1.000 perak, lalu saya bisa naik angkot Rp 1.000 perak.

Sampai rumah saya rendam. Atas izin Allah, saya siapin bak-bak kemudian direndam semua kacang ijo yang Rp 500 perak itu. Nah, ketika direndam itu, kan saya ngajarin kepada saudara kan, shalawatin saja. Itu bener dishalawatin gitu loh! Jadi yang gini-gini nih, insya Allah, my real experiences.

Misalnya, saudara punya barang dagangan motor, daripada Cuma dikepret-kepret doang; mudah-mudahan laku, mudah-mudahan laku, mudah-mudahan laku. Malah kalau pedagang kaki lima apa biasanya? Laris manis tanjung kimpul, barang abis duit kumpul. Mendingan dishalawatin. Ente dagang ikan nih, usapin tuh ikan satu-satu, Allahuma shalli ala Muhammad, insya Allah, bau amis tuh tangan. Ya, emang enggak diusap saja sudah amis, orang dagang ikan gitu kan?

Dagang nasi uduk, sambil diaduk-aduk sambil baca shalawat. Saya gitu, direndempakebak,pakebatu es, malamnya kemudian kita pegang, kemudian kita bershalawat kepada Rasulullah. Kita berdoa, mudah-mudahan jangan samapai nggak laku. Lalu kemudian, besoknya kita lakukan perubahan secara tidak sengaja. Inysa Allah, kita teruskan lagi di materi berikutnya bagaimana quatum changing ini bekerja.

“Ya Allah, ya Rahman, ya Rahiim,  al dzal jalali wal ikram. Ajarkan kami, Ya Allah. Sesungguhnya tidak ada yang kami tahu, kecuali yang Engaku ajarkan kepada kami. Dan apa yang kami tahu, mudah-mudahan Engkau berkenan membuat kami melaksanakan, dan menjadi amal shale. Robbi zidna ilma warzuqna fahma, wa amalan mutaqobbalan wa rizqon halalan wasin mubarokan, ya arhamarrohimin. Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.”