Rabu

MENGAPA HARUS KIKIR JIKA HARUS BEREFEK NEGATIF


Orang kikir bisa diartikan sebagai orang yang paling sulit untuk berpisah dengan apa yang dimilikinya. Sifat pelit ini sepertinya tidak ada hubungannya dengan kekayaan. Ada orang miskin yang pelit, banyak juga orang kaya yang pelit. Tapi untuk orang kaya yang pelit, ada kecenderungan: Semakin dia kaya semakin parah penyakit pelitnya. Kalau terpaksa sekali membeli sesuatu, dia akan mencari barang dengan harga yang paling murah. Apalagi kalau barang itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk diberikan kepada orang lain.

Di Amerika ada istilah yang sangat “menohok”  buat mengembangkan orang pelit yaitu “Hi is Very cheap!” jadi, jangan berbunga-bunga jika Anda disebut very cheap, sebab maknanya bukan “murah hati”, tetapi “murahan” atau orang yang tak punya harga diri.

Di masyarakat Sumatera Selatan ada juga istilah yang telak untuk menggambarkan orang pelit yaitu “getah basah.” Mungkin,karena di sana banyak perkebunan karet, maka perumpamaan dengan “getah” ini sangat pas melukiskan uang yang menempel pada tangan orang kikir yang sangat sulit berpindah tempat.

Anda tentu pernah mengalami, mungkin dalam aktivitas di tempat kerja atau kegiatan sosial, saat makan bersama seseorang. Pada giliran selesai makan dan akan membayar bill akan tampak adegan yang “menggelikan” dari orang pelit. Dia akan pura-pura mencabut dompetnya, tapi seakan-akan “menyangkut’ nggak bisa keluar-keluar. Atau, trik lainnya, dia akan permisi ke kamar kecil dan berlama-lama di sana.

Al-Qur’an menyebut sifat pelit dengan sukht. Di dalam istilah lain, sukht sering kali dikenal dengan kikir. Sifat ini menjadikan manusia jauh dari Tuhan, manusia, dekat dengan setan dan neraka. Sifat pelit ini menjadikan manusia tidak bisa tidur nyenyak, makan juga tak enak, karena selalu khawatir terhadap materi yang dimilikinya.

Orang kikir dibenci oleh Allah Swt. Orang kikir tergolong pecinta dunia yang berlebihan sehingga lupa terhadap Zat Pemberi Rezeki. Kecintaan terhadap dunia, menjadikannya bakhil sehingga terkadang akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan dan ambisinya, walaupun harus mencuri, mencopet, atau korupsi. Mereka lupa, bahwa harta itu tidak akan abadi atau tidak akan di bawa mati, justru mereka takut menghadapi kematian, walaupun akhirnya harus mati juga.

Sifat pelit ini menjadi penyakit hati yang sulit obatnya, bahkan semakin hari semakin tumbuh subur. Setiap pagi, Allah Swt. mengirimkan dua malaikat turun kebumi yang senantiasa mendoakan orang pelit dan juga orang dermawan. Doa malaikat tersebut “Ya Allah, limpahkanlah rezeki kepada orang yang bersedekah dan jangan engkau limpahkan kepada orang yang pelit.” (HR. Muslim)

Sangat wajar, jika orang-orang dermawan itu semakin hari semakin kaya, karena doa malaikat mengiringinya setiap pagi. Dan wajar sekali jika sering didapati orang sulit mendapatkan rezeki setiap hari karena sebagian besar mereka tidak mengawali aktivitasnya dengan bersedekah walaupun jumlahnya sedikit.

Begitulah perlakuan Tuhan kepada orang-orang yang dermawan. Sedangkan bagi orang-orang pelit, mereka dikategorikan dengan kufur nikmat. Firman Allah, “Jika kalian bersyukur atas karunia-Nya (rezeki), pasti Allah memberikan balasan yang berlipat. Namun, jika kalian mengingkari (kufur nikmat), ketahuilah bahwa siksaan Allah kelak sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)

Keadaan orang-orang bakhil di akhirat oleh Allah Swt. digambarkan di dalam al-Qur’an sebagai berikut: “Sekali-kali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka, harta yang mereka bakhilkan (simpan) akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (QS. Ali Imran:180)

Ayat ini mengajak kita agar tidak pelit. Sebab, harta benda itu akan kembali kepada-Nya, dan manusia kelak bertanggung jawab di hadapan Allah Swt. Di sisi lain, Allah tidak segan-segan memperingatkan kepada orang-orang pelit, bahwa harta benda yang mereka miliki akan dikalungkan di lehernya. Ini sebuah bentuk ancaman, sekaligus peringatan kepada umat manusia. Sering kali, peringatan dan ancaman itu tidak mampu mengubah watak dan sifat pelit manusia.

Sebagi makhluk sosial, manusia mesti saling tolong-menolong (ta’awun), mengenal (ta’aruf), dan toleransi (tasamuh), dan melindungi (takaful). Oleh karena itu, sudah semestinya orang kaya memberikan sebagian hartanya kepada para fakir miskin dan orang lemah.

Sebagian harta yang diberikan kepada fakir miskin adalah wujud kepedulian seseorang kepada sesamanya dan sebagai bentuk silaturrahmi sekaligus membangun kasih antara orang kaya dengan kaum lemah.

Jika orang kaya tidak pernah memberikan sebagian apa yang dimilikinya kepada fakir miskin, maka akan terjadi kesenjangan sosial. Hal ini akan memicu banyaknya kriminalitas, seperti pencurian, perampokan, serta tindakan kriminalitas lainnya. Lebih-lebih, pemerintah tidak memiliki kekuatan dan ketegasan hukum sehingga akan menjadikan para pelaku kejahatan berbuat kejam dan nekat hingga malah terkadang sampai berani melukai “mangsanya”.

Harta yang disedekahkan kepada kaum lemah, tak akan mengurangi sedikit pun dari apa yang dimilikinya, justru Allah akan melipatgandakan harta yang telah disedekahkan. Namun, karena sifat  kepemilikan itu sering kali membuat orang enggan dan tidak mau memberikan sebagian hartanya kepada mereka yang membutuhkan.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw. bersabda “ Perumpamaan orang yang bakhil dan orang dermawan bagaikan dua orang yang memakai dua baju besi yang menutupi leher hingga dadanya. Adapun yang dermawan tidak keluar uangnya untuk dibelanjakan, melaikan baju besinya semakin membesar, hingga menutupi sekujur tubuhnya. Sampai jari-jari pun tidak terlihat lagi. Sedangkan orang yang kikir, semakin enggan membelanjakan uangnya, makin lekat dan menyempit baju besinya hingga mencekik batang lehernya.” (HR. Muslim)

Dari hadis ini bisa kita simpulkan bahwa kedua orang tersebut sama-sama kaya. Hanya saja, yang satu dermawan dan satunya kikir. Keduanya sama-sama memakai baju besi untuk melindungi dirinya dari musuh. Dalam perumpamaan di atas orang yang dermawan sebagai pemakai baju besi yang longgar sehingga dengan mudah baju besi melindungi seluruh tubuhnya.

Sedangkan orang yang kikir bagaikan pemakai baju yang sempit, kedua tangannya membelenggu lehernya. Kian berusaha memasukkan tangannya kian mencekik lehernya. Demikianlah perumpamaan orang yang dermawan tiap kali berinfak semakin lapang dadanya dan kian bertambah baik jiwanya.

Sebaliknya, orang yang bakhil dan kikir makin terbelenggu jiwanya. Dadanya semakin sempit. Setiap kali menahan hartanya dan mempererat genggamannya semakin sesak dadanya oleh belenggu itu. Allah Swt. dalam surat al-Hasr ayat 9 berfirman:

“Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Rasulullah Saw. memperingatkan semua pengikutnya, agar jangan sampai terjerat sifat kikir. Sifat ini menjadi pemicu fitnah dan dampak negatifnya sangat besar pada kehidupan sosial. Nabi memberikan perumpamaan, bahwa orang pelit itu jauh dari Allah, masyarakat, bahkan jauh dari surga, dan dekat dengan neraka. Bahkan Rasulullah mensinyalir dalam sebuah hadis lain bahwa, “Orang bodoh yang pemurah lebih disukai daripada orang yang pintar namun pelit dan kikir.”

Kebakhilan dan kebodohan merupakan dua penyakit yang bisa menghambat perkembangan pendidikan dan kemajuan suatu bangsa. Beberapa ulama menyimpulkan bahwa salah satu penyebab kemunduran bangsa atau peradaban sebuah masyarakat karena banyaknya orang bakhil (katsratul bukhala’) dan maraknya orang bodoh (katsratul juhala’). Jika kebanyakan orang Islam pelit dan kikir, akibatnya akan melahirakan kebodohan terhadap generasi yang akan datang. Ini sudah jelas, walaupun banyak lembaga pendidikan, baik formal dan non-formal, realitasnya banyak masyarakat (anak bangsa) tidak bisa melanjutkan sekolah, karena biaya cukup tinggi,tidak terjangkau. Anak jalanan (anjal) berkeliaran di bawah jembatan, di sepanjang trotoar, dan alun-alun. Pemandangan ini sudah menjadi fenomena sehari-hari. Inilah yang menjadi sebuah catatan penting bahwa sebagian besar penduduk Indonesia mayoritas miskin dan tertinggal.()

daftar bisnis ustad yusuf mansur