Rabu, 13 Agustus 2014

REZEKI SUDAH JAMINAN ALLAH

Hidup ini pun sebenarnya ada jaminan dari Allah SWT. Ada garansi dari Allah. Allah bilang, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya…” (QS.Huud:6)

Semua makhluk di muka bumi ini rezekinya dari Allah. Jaminan langsung dari Allah SWT.

Pertanyaannya, kapan jaminan ini kemudian berlaku dan tidk berlaku?

Nah ini dia. Saudara tuh sebenarnya ga perlu risau ya soal rezeki. Itu semua udah diatur oleh Allah. Do your best aja lah. Lakukan yang terbaik saja. Allah akan penuhi semuanya. Seorang supir taksi begitu saya contohin, punya penghasilan rata-rata per bulan itu 500 ribu dengan lima anak, dua SD, satu SMP, satu SMA dan satu kuliah.

Menurut teori normal, 500 ribu cukup gak untuk meng-cover dia punya anak? Ga bkal cukup apalagi dia punya tanggungan mertua, orang tua, dua adik kandung dan dua adik ipar. Ini dalem banget nih rezeki Allah. Pada saat berposisi seperti ini, semua anggota keluarga, don’t worry, jangan takut. Kenapa jangan takut? Urusan semua kebutuhan bukan urusan Kita. Tapi kapan Allah mau bertanggung jawab terhadap semua anggota keluarga seperti ini? Bilamana semua anggota keluarga ini memperhatikan juga aturan main garansinya.

Dia berdoa di hadapan Allah, “rezeki kami bukan karena apa yang kami cari, tapi karena apa yang Kau beri. Ya Allah, apa yang kami cari paling seberapa sih, ga seberapanya juga dibanding kebutuhan kami. Hanya Engkau lah ya Allah yang bisa memenuhi kebutuhan kami.” Yang kaya gini nih yang bikin jaminan Allah berlaku.

Sama halnya dengan garansi barang yang berlaku kalo ada segel, jminan Allah juga punya segel. Apa saja segelnya? Coba perhatiin Qur’nnya. Baca surat Fushilaat ayat 30-32.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelinungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushilaat;30-32)

Perhatikan komponen-komponennya …
Innalladziina qooluu Rabbunallah, ini penting sekali. Tuhannya siapa? Allah. Dari sini semua beginning-nya. Kalau yang di andelin adalah 500 ribunya, maka ayat 30-32 ini tidak akan bunyi dalam kehidupan dia. Dia ngandelin gajinya. Ngandelin kerjaannya, ngandelin perusahaannya, ngandelin proyeknya, ngandelin temen, ngandelin sahabat, ga bakal kebutuhannya bisa kepenuhin. Syarat mutlak adalah jangan gantungin kepada ini itu. Tapi pada apa? Innalladziina Rabbunallah.

Syarat utama jaminan itu terjadi adalah Tuhan dia Allah SWT.

Kemudian komponen berikutnya adalah, tsummats taqoomuu, yakni ISTIQOMAH lah. Allah itu segala-galanya buat kita semua.

Kadang kita juga ada saat-saat dimana kita ga punya pekerjaan. Ada saat di mana kita ga punya usaha, betul tidak? Ada saat kita jobless. Kita ilang pekerjaan.

Pada saat seperti itu, siapa yang saudara gantungkan? Pekerjaan? Orang nyatanya ga ada. Apa yang saudara gantungkan? Dagangan? Jangankan dagangan, warungnya, tokonya juga kagak ada. Maka bergantunglah kepada siapa? Kepada yang gak pernah ilang tuh gantungan. Kepada yang tak pernah tuh senderan. Kepada yang gak pernah menghilang dari badan kita, dari penglihatan kita, dari pendengaran kita. Selalu nempel dalam kehidupan kita. Dialah Allah SWT lalu istiqomh lah, teguhkan pendirian, selalu ada direl Allah.
Kalau ini kemudian dipenuhi sama kita semua, mka, tatanazzalu ‘alaihimul malaaikah. Maka Allah akan menurunkan malaikatnya. Ini ayat ga main-min loh, kita aja yang suka ga percaya, ga ngerti, ga faham dan ga tahu.

Saya sering tuh diledekin sama temen-temen, “Ustadz, ustadz itu kok terlalu ga masuk akal sih?!”

Kan saya bilang ini 500 ribu itu penghasilan satu bulan, tapi dia ga pikirin itu penghasilan. Apa yang dia pikirkan? Kalau keluar bismillah, dia pastikan dia punya taksi bener. Dia pastikan dia punya penghasiln itu bener. Halal, bukan barang haram. Yang dia pikirin ketika kemudian jalanin taksiny adalah dia kerja yang bener. Dia dawamin dhuha, tiap ketemu jam 9 dia cari Allah untuk shalat dhuha. Ini yang dipikirin. Ketika dapet penumpang di jam 11.30, dia rajin rapatin mobilnya ke masjid.

Saya sering tuh ngedapetin, supir-supir taksi yang masya Allah. Suatu ketika di stop sama kita. Buka kaca kemudian saya Tanya, “mau ke mana pak?”
Ini kejadian yang saya ceritain sebelum saya jadi Yusuf Mansur yang sekarang. “Mau ke sana.”

Terus dia bilang, “Pak, nanti dikit lagi dzuhur, boleh ga saya dzuhur dulu?”
Wah … BOs, jangankan Allah yang ciptain saya, saya aja demen ngeliat tingkah tuh supir. Yang begini ini loh, yang dimaksud dengan tsummats tqoomu, kemudian istiqomahlah.

Saya ulang dulu apa yang menjadi syarat berlakunya jaminan Allah. Pertama yakinkan bahwa Tuhan kita adalah Allah. Ini bukan perkara gampang loh. Di episode ini kita sering gagal tuh. Kita sering bilang begini, “Lo mesti tahu diri. Bapak lo udah susah. Jangan punya keinginan macem-macem, udah SMA aja udah bagus.” Kenapa dia punya kalimat seperti itu? Karena yang diandelin adalah bukan Allah melainkan duit! Kalau begitu, maka keajaiban ini tidak akan pernah turun.

Saya minta sama Allah kemampuan diri saya agar bisa membawa saudara semua berkenalan kepada Allah. Otak saudara terbatas untuk masuk UI, ITB, IPB. Masuk di situ tuh bukan karena otak, karena Allah.

Nah, udah tau otaknya segitu-gitu aja, tapi ga dhuha, ga shalat malam, ngandelin kebiasaan, kepintaran. Berapa banyak sih orang di negeri ini yang pintar lalu kemudian tidak bisa kuliah? Ada berapa banyak orang di negeri ini yang kaya tapi hidupnya susah? Mulai dari pisah dengan orang tuanya, pisah dengan istrinya, pisah dengan anak-anaknya, hidupnya belangsak. Itu karena tuhannya bukan Allah. Kembalilah pada Allah. Kalau mau jaminan itu datang dari Allah, maka pertanyannya adalah saudara sudah bertuhan Allah belum? Jangan-jangan belum. Ini yang saya khawatirkan kepada diri saya dan pada sahabat-sahabat semua.

Allah punya pasukan di langit, tentara-tentara-Nya Allah. Berupa apa? Berupa malaikat-mlaikat. Kita adalah makhluk kasar yang tidak diberikan hak, kecuali Allah izinkan tentu saja. Untuk melihat malaikat Allah, untuk mengerti, merasakan bahwa yang ada di hadapan kita, di sekeliling kita itu adalah malaikat Allah.

Ketika kemudian ada seorang yang pamit pada ibunya, “Mak, saya pamit mau pergi kuliah.”

Lalu maknya mendoakan, “Ya nak, mak doain. Mudah-mudahan kamu diselamatkan Allah SWT.”

Pergilah tuh anak dan hilang dari peredaran emaknya. Maknya kemudian masuk ke kamar dan mendoakan anaknya. Anak ini baru sadar kalau dia ga bawa duit dan dalam posisi sudah ada di atas bis. Pada saat itu doa emaknya bekerja, ketika emaknya sadar, ya Allah saya belum ngasih duit ke anak saya. Tapi emaknya itu nitip anaknya kepada Allah maka berlakulah ini. Emaknya ga manggil lagi anaknya. Dia tetep aja istiqomah. Tuhannya adalah Allah. Bukan duit yang bisa membuat anak ini sampai ke kampus, tapi Allah. Allah turunkan kemudian malaikat-Nya, Aku akan turunkan kepada mereka semua, malaikat-malaikat-Ku, kata Allah.

Kenek kemudian mendatangi satu demi satu penumpang nyampelah kepada kursi si adinda ini. Dia bilang, “Pak saya ga bawa duit.”

Terus si kenek bilang, “Jangan bercanda kamu, pagi-pagi minta gratisan.”
“Bener pak, saya ga bawa duit.”

“Kalau ga bawa duit kenapa kamu duduk? Tahu diri dong. Kalau ga bawa duit kamu berdiri dong.”

Eh di belakang ada yang nepuk pundak tuh anak, “Mas ga bwa duit?”
“Iya pak.”
“Pak kenek, biar nanti saya yang bayar.”
Keluarin dompet, kasih 100 ribu.

Saudara tidak diberikan hak untuk mengetahui bahwa orang yang di belakang ini bisa jadi bukan orang melainkan malaikat Allah. Atau bahkan bisa jadi kenek ini pun bukan orang. Melainkan malaikat Allah. Untuk kemudian menunjukkan bahwa ini adalah peristiwa dunia.

Sekali lagi, syarat untuk mendapatkan perlindungan, penjagaan dan jaminan dari AllahSWT adalah nomor satu SIAPA TUHANNYA? ALLAH!

Nomor dua kemudian kita ISTIQOMAH. Engga miring kanan atau miring kiri, lempeng aja udah.

Utang kita, Allah yang nanggung. Penyakit kita, Allah yang nyembuhin. Modal kita, Allah yang bisa nambahin. Pekerjaan kita, Allah yang bisa naikin. Dagangan kita, Allah yang bisa naikin. Don’t worry!

Jangan pernah bilang, “Ya Allah, kalau ga laku nih, saya ga bisa ngasi anak.” Nah cacat tuh. Harusnya gimana? Mau laku kek, ga laku kek, itu urusan Allah. Bukan urusan anda.

Doanya gimana? “Ya Allah saya percaya rezeki adalah rezeki-Mu. Dagangan ini jadikanlah dagangn ibadah untuk-Mu ya Allah. Saya bawa duit Alhamdulillah, ga bawa duit jangan sampai ya Allah.”

Allah udah bilang “allaa takhoofu, eh jangan khawatir, jangan khawatir, ada Aku, ada Allah.”

Wa absyiruu bil jannatilladzii kuntum tuu’aduun, dan kabarkan dengan surga yang telah dijanjikan Allah padamu.

Surga buat mereka yang punya utang apa? Ya terbayar utangnya. Surga bagi mereka yang lagi pengen punya anak? Ya anak. Surga buat mereka yang lagi merindukan jodonya apa? Ya jodoh.

Dalam kasus si supir taksi yang kemudian saya contohkan ini, betapa para malaikat-malaikat Allah ini bertebaran di muka bumi tanpa kita kemudian ketahui siapa dia. Perhatikan. Tungku kosong, magic com atau magic jar juga kosong, persediaan beras kagak ada. Ikan belum dibeli. Semua duit juga abis. Kira-kira makan gak? Kalau saudara bilang ga makan karena belum belanja, ga ada tuh cerita Allah di sini?

“Bismillahirrahmaanirraahiim. Ya Allah, hari ini kita belum belanja. Ya subhanallah lah, mudah-mudahan Engkau menjamin hidup kami sebagaimana hari-hari yang lalu.”

Allah bilang, jaminan-Ku ga surut. Bukan berarti kemarin lo dijamin, sekarang engga. Asal hari kemarin anda beriman, hari ini anda beriman, hari esok anda juga beriman maka jaminan itu sepanjang masa. Bahkan Allah mengatakan kepada kita semua, jaminan-Ku akan Aku berikan. Bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Nahnu auliyaa ukum. Lihat! Kami adalah pelindung kalian semua, penjaga kalian semua, pemenuh segala kebutuhan kalian semua.

Saat matahari sejengkal dari kepala. Nahnu auliyaa ukum, kamilah pelindung kalian semua, penjaga, pemenuh kebutuhan kalian semua. Penolong kalian semua, wakil kalian semua. Fil hayaatiddunyaa, di kehidupan ini, wa fil aakhirah dan di akhirat nanti.

Begitu si bapak mau jalan, ada orang berseragam olahraga sama istrinya bawa tentengan nasi uduk papas an di depan pintu, “Assalamu’alikum.” jawabnya“Wa’alaikumsalam”

Ngobrol kanan, ngobrol kiri, kita ga tau bos yang datang itu malaikat atau bukan. Ga ada KTM-nya. Saudara tau gak KTM apa? Kartu Tanda Malaikat! Ga ada! Masa iya orang datang bawa lontong kita Tanya, “Maaf ya mas, mas ini malaikat bukan?”

Ga perlu juga kita Tanya, yang penting lontongnya datang. Itu dia maksud-Nya Allah, jaminan Allah tuh ada.

Tapi kalau kemudian ibunya merengut, anak-anak pada sebel, “Bapak sih miskin. Saya males banget dah. Mending jadi anaknya Yusuf Mansur. Jadi anak bapak mah begini nih ceritanya. Pagi kagak makan, malem kagak makan.”

Kenapa anak-anaknya pada susah? Karena tidak diajarkan bahwa yang memberi makan adalah Allah SWT.

Bilamana saudara adalah seorang yang lemah, kecil dan diganggu sama orang lain, lalu ada seorang yang jagoan, seorang yang kaya raya bilang ke saudara, “Siapa yang ganggu lo? Urusan sama gue.”

Atau saudara kemudian pegang kartu nama si fulan. Nempelin lambing instansi tertentu, lalu saudara merasannyaman, tenang, aman karena ada bekingan makhluk. Kenapa kemudian kita tidak merasa aman dengan bekingan dari Allah?

Kami, kata Allah yang menjadi pelindung, penolong, pembantu, penyelamat. Walakum, nah ini menarik saudara, walakum fiih, dan buat kalian semua. Fiihaa itu ke mana larinya? Ke fiddunyaa ataupun fil aakhirah baik di dunia maupundi akhirat.

Apa yang Allah jamin untuk kita?
“Buat kalian semua adalah apa yang dibutuhkan oleh kalian semua.” Allah jamin loh apa yang dibutuhkan oleh kita semua.
“Dan buat kalian semua di dunia adalah apa yang kalian minta.” (QS. Fushilaat:31)

Apalagi yang masih kurang kalau apa yang kita butuhkan dan kita inginkan sudah dijamin Allah?

Saya mencoba memahami bahwa kenapa Allah memberi dua statement ini. Ada yang kita butuhkn lalu Allah jamin, ada yang kita minta lalu Allah penuhin. Karena kita semua orang pandai meminta apa yang dia butuhkan.
Kembali kepada kisah supir taksi. Dia punya penghasilan 500 ribu per bulan dengan lima orang anak, satu orang istri, orang tua, mertua, dua ipar serta dua adik kandung yang ditanggung.

Tapi benarkah yang nanggung ini si supir taksi? Bodoh sekali kalu supir taksi ini menanggung ini semua, ga bakal kuat bos! Jangan kita yang nanggung kebutuhan keluarga kita. Kita punya diri sendiri aja ga bakal sanggup, Allah aja yang nanggung.

Kapan kemudian Allah mau menanggung kebutuhan keluarga ini?
Bilamana keluarga ini mau menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya.
Demi Allah, kita bisa hidup bukan karena kita punya rezeki yang kita cari, tapi kita hidup karena ada Allah SWT.

Ada orang yang mungkin juga berdoa seperti supir taksi ini, tapi ada juga yang tidak berdoa tapi tetep Allah kirimkan itu makanan paginya. Sarapan pagi Allah kirimkan. Kenapa? Walakum fiiha mantasythii anfusukum. Allah akan penuhi apa yang kita butuhin.

Istri bilang kepada suami, “Bang, saya ngerti abang barangkali ga ada duit. Tapi mudah-mudahan abang bisa bawa jadi doa. Kita butuh duit bang 900 ribu.”
“Kapan butuhnya?”
“Hari ini.”
“Buat apa?”
“Buat anak kita bayaran sekolah bang. Udah dari kemarin loh.”
“Oh gitu ya. Ya udah nanti Abang doa deh.”

Jalanlah si supir taksi pagi-pagi. Jam 8 habis dapet satu penumpang, dia mampir transit ke masjid. Dia shalat dhuha kemudian dia bicara kepada Allah SWT, “Ya Allah, istri saya titip pesan, agar saya berdoa kepada-Mu ya Allah, saya butuh 900 ribu.”

Saya mau Tanya, supir taksi duitnya dari mana? Dari penumpang?
Kalau supir taksi duitnya dari penumpang, begitu ga punya penumpang gimana? Ga punya duit dong.
Dari taksinya?

Salah juga! Kalau taksinya mogok gimana? Kalau sopir taksinya mogok gimana ceritanya?

Apa jawaban yang paling plek? Supir taksi dapet duit dari siapa? Dari Allah SWT!

Lihat nih, Allah nih punya urusan. Begitu shalat dhuha selesai, dia diajak ngobrol sama satu orang kaya.

“Pak rajin amat pagi-pagi udah shalat dhuha. Ga narik?”
“Udah, udah narik. Udah dapet satu orang tuh tadi.”
“Saya mau bagi sedekah nih. Ada keperluan apa hari ini?”
“Ya Allah pak, kalau ga ditanya saya ga bakal ngomong nih.”
“Bener pak, ngomong aja. Lagi ada kebutuhan apa?”
“Saya lagi butuh duit 900 ribu pak, buat kuliah anak saya.”
Buka dompetlah orang kaya itu. Dia kasih duitny ke supir taksi tadi, “Ini buat bapak.”

Orang yang tadi ditemui pada saat shalat dhuha itu belum tentu dia manusia. Bisa jadi dari golongan malaikat, atau bisa jadi juga memang dari golongan manusia tapi siapa juga yang menggerakkan? Allah SWT. Ini dia!

Allah udah bilang, jangan takut, jangan khawatir, jangan sedih, jangan kebanyakan mikir. Balikin aja ke Allah, Allah akan turunin malaikat-malaikat-Nya sehingga kemudian kita dapat jannah-Nya.

Selanjutnya apa kata Allah?
“Semua adalah Allah yang menghidupkan.” QS. Fushilaat :32
Tapi ingat saaudara, tuhannya harus benar-benar Allah dulu. Kalau bukan Allah, ga bakal ketemu. Dan saudara harus latihan, harus latihan. Sekali-kali kosongin dompet lah. Supaya apa? Supaya kita insyaf, bahwa yang kita butuhin bukan duit, tapi Allah SWT!

SEMBUH DARI KANKER KARENA SEDEKAH



Kisah berikut ini adalah salah satu kisah yang sangat terkenal dan menjadi pelajaran berharga bagi setiap orang.

Tokoh dalam kisah ini adalah seorang lelaki kaya raya. Dia adalah pengusaha besar. Suatu ketika dia terkena penyakit kronis yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Dia lalu pergi memeriksakan diri ke rumah sakit terkenal.

Menurut diagnose dokter, ditemukan penyakit kanker kronis dalam tubuhnya, dan prosentase kesembuhannya sangat tipis sekali. Para dokter menyarankan agar dia mau berobat ke luar negeri supaya mendapat perawatan intensif. Seketika itu juga lelaki itu berangkat ke luar negeri untuk menjalani pemeriksaan dan hasilnya sama dengan diagnosa dalam negeri. Para dokter di rumah sakit itu lalu menyarankan agar dia mau melakukan operasi untuk menghilangkan anggota tubuhnya yang digerogoti kanker.

Akan tetapi, lelaki tersebut meminta para dokter agar mau memberikan tenggang waktu untuk pulang ke Negara asalnya terlebih dahulu. Dia berkeinginan untuk mengurus segala sesuatunya, dan berwasiat kepada anggota keluarganya, jika ternyata setelah operasi ada hal-hal yang tidak diinginkan.

Akhirnya lelaki itu pun pulang ke Negara asalnya lalu mengurus segala sesuatunya. Tidak lupa dia menuliskan wasiat dan menitipkan anggota keluarganya kepada orang yang dipercayainya untuk menjaga keluarganya. Namun, dia sama sekali tidak memberitahukan kepada keluarganya permasalahan yang sedang dia hadapi.

Suatu ketika di pertengahan jalan menuju rumahnya, pandangannya tertuju kepada seorang perempuan tua yang berdiri di samping tempat penyembelihan binatang. Perempuan itu mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer di sebelah tempat penyembelihan. Lelaki itu lalu menghentikan langkahnya dan menemui perempuan tua itu. Dia bertanya kenapa perempuan itu mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer. Perempuan itu lalu bercerita kepadanya, bahwa anak-anaknya menjadai yatim sepeninggal suaminya.

Keluarga ini sangat miskin dan tidak punya uang untuk membeli daging. Yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan tulang-tulang yang tercecer untuk dimasak sebagai ganti dari daging. Lelaki itu sangat tersentuh mendengar penuturan kondisi yang dihadapi perempuan itu. Dia lalu menyedekahkan uangnya dalam jumlah lumayan banyak kepada perempuan itu. Selanjutnya dia memberikan uang kepada tukang sembelih dalam jumlah yang lumayan banyak, lalu memintanya untuk mengirimkan daging kepada perempuan itu setiap minggunya. Perempuan itu sangat berterima kasih kepada lelaki itu. Tidak lupa dia mendoakan lelaki itu lalu permisi dan meninggalkan tempat.

Beberapa hari kemudian, lelaki itu pergi ke luar negeri untuk menjalani operasi. Sebelum operasi dilaksanakan, terlebih dahulu dokter memeriksa lelaki itu kembali. Hasilnya sangat mencengangkan. Berubahlah raut muka dokter itu, dan dengan nada marah dia bertanya kepada lelaki itu, “Apakah engkau sudah pergi ke rumah sakit lainnya untuk menjalani pengobatan atas penyakitmu itu?”

Lelaki itu menjawab, “Tidak.”

Dokter itu berkat, “Bohong! Jujurlah padaku, apakah engkau sudah pergi ke rumah sakit lainnya atau tidak?”

Lelaki itu menjawab, “Aku bersumpah, demi Allah aku sama sekali tidak pergi ke rumah sakit lainnya. Sebenarnya, ada apa engkau bertanya seperti ini?”

Dokter itu lalu menjawab, “Pemeriksaan dan diagnosa terbaru menunjukkan tubuhmu sama sekali sudah bersih dari kanker. Keadaanmu sekarang ini sehat-sehat saja.”

Lelaki itu hampir tidak percaya atas apa yang dikatakan oleh dokter itu. Dia tidak kuasa membendung air matanya yang meleleh karena bahagia. Dia lalu bertanya kepada dokter itu apakah benar apa yang barusan dikatakan katakan kepadanya. Dokter itu menjawab dan bersumpah bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.

Setelah menyadari atas apa yang dialaminya ini, lelaki itu lalu bersyukur memanjatkan puji kepada Allah. Kemudian dia pulang ke Negara asalnya dalam keadaan sehat wal afiat. Dia menceritakan kepada anggota keluarganya, dan mereka semua sangat takjub terhadap peristiwa yang dialami lelaki itu.

Dalam hal ini lelaki itu berkata, “Allah telah menyembuhkan aku berkat doa yang dipanjatkan oleh perempuan tua tersebut, karena aku telah bersedekah kepada anak-anak yatimnya.”

Dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk memelihara keluarga miskin sampai waktu yang dikehendaki Allah.

Subhanallah. Semoga cerita ini bisa menjadi renungan buat kita semua bahwa sesungguhnya sedekah mampu memadamkan murka Allah, dan mampu menolak kematian yang buruk. Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw., “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan (mengeluarkan) sedekah.”

KEAJAIBAN SEDEKAH DAN REZEKI



Saat itu, Lihan (34 tahun) hendak menyelenggarakan halal bihalal dengan 1428 anak yatim dan panti asuhan di Banjarmasin. Ia akan mengundang seorang ustadz kondang dari jakarta. Namun, sampai menjelang hari H, uang belum tersedia. Hatinya makin galau ketika pihak event organizer meminta kepastian. Iseng-iseng, ia pergi ke bank mengecek rekening. Ajaib, ada uang Rp. 1 miliar di dalamnya. Ia mengecek ke petugas bank kalau-kalau ada salah transfer, ternyata tidak.

Namun, nama pengirimnya “gelap”. Tak hanya sekali saja. Keesokan harinya, uangnya bertambah Rp. 1 miliar lagi. “Sampai saat ini, orang yang mengirim uang ke rekaning saya tidak tahu,” ujarnya. Padahal untuk membiayai acaranya, ia hanya butuh uang Rp. 200 juta.

Itulah penggalan kisah keajaiban sedekah yang dimuat di salah satu Koran nasional terbitan jum’at, 25 April 2008.
***
Saat itu, kondisi keuangan kami lagi sangat menipis. Situasi ekonomi dan bisnis tengah dilanda kelesuan. Harga barang-barang menjadi meningkat, sementara nilai real uang yang tersedia menjadi kecil. Pendapatan yang dulunya cukup untuk memenuhi kebutuhan, karena krisis ekonomi, menjadi tidak cukup lagi. Dalam situasi seperti itu, berhemat dan menekan kebutuhan yang kurang penting menjadi pilihan yang cukup bijaksana, selain mengupayakan sumber pendapatan lain yang bisa digali.

Di tengah keprihatinan atas kondisi krisis saat itu, suatu ketika, istri meminta tolong saya untuk mengecek saldo rekening di ATM. Seperti biasanya, saya selalu menanyakan siapa kira-kira yang akan mentransfer uang dan berapa jumlahnya. Hal tersebut dimungkinkan, mengingat beberapa hari sebelumnya istri telah memberitahukan kepada pelanggan (yang mengambil barang) kapan saat jatuh tempo pembayarannya dan berapa jumlah nominalnya. Namun kali ini, tanpa ada alasan yang rasional, istri meminta saya mengecek saldo rekening dengan alasan “siapa tahu ada pelanggan yang transfer”, padahal tidak ada satupun yang memberitahu akan transfer sejumlah dana karena belum jatuh tempo pembayaran.

Saya menjadi tidak semangat memenuhi permintaannya itu. Meski demikian, saya tetap melaksanakannya demi menjaga perasaan san membahagiakan dirinya. Ketika saya mendapat giliran melakukan transaksi di mesin ATM setelah mengantri cukup lama, saya mendapati hal yang sesuai saya duga, tidak ada penambahan apa pun di rekening istri saya.
***
Kisah saya dan Lihan di atas menampilkan fragmen kehidupan yang sama, yaitu sama-sama melakukan pengecekan atas saldo rekening ketika dihadapkan pada kesulitan keuangan. Bedanya, Lihan mendapati ada transferan dana sejumlah Rp. 2 miliar, sedangkan saya tidak mendapati transferan dana apapun, alias Rp. 0 miliar.
Kisah Lihan yang dimuat di Koran nasional itu, mengisyaratkan sebuah pesan akan keajaiban sebuah sedekah. Uang sejumlah Rp. 2 miliar yang diterima Lihan dari orang yang tidak dikenal itu adalah balasan Allah Swt atas sedekah yang dia lakukan.
Namun orang yang mengalami kisah sebaliknya, seperti saya dan istri, tidak adanya transferan dana yang spektakuler dan tanpa terduga, tidak berarti Allah Swt tidak memenuhi janji-Nya dalam membalas orang-orang yang melakukan sedekah. Saya yakin, banyak orang yang melakukan sedekah seperti halnya Lihan. Namun sangat sedikit orang yang mendapat kejutan seperti dirinya. Lantas, apakah sedekah mereka tidak menemukan pembalasannya?

Balasan Allah Swt. Atas sedekah yang dilkukan orang tidak harus berupa uang tunai. Bisa jadi berupa terhindarnya seseorang dari penyakit atau marabahaya, atau perasaan tentram di dalam jiwa, atau kehidupan yang penuh dengan keberkahan dan kemanfaatan, dan lain-lain, yang apabil dikonversi dengan uang, boleh jadi akan bernilai Rp. 1 miliar bahkan lebih.

 “Akhi, antum mau kaya gak?” Demikian seorang sahabat berujar kepada saya suatu hari. Kemudian ia melanjutkan, “Menjadi kaya itu gampang kok. Coba antum ingin uang berapa? Katakanlah Rp. 1 miliar. Berarti antum harus sedekah sebesar Rp. 100 juta, karena pahala sedekah itu akan dilipatkan minimal sepuluh kali lipat! Bahkan dalam al-Qur’an, pahala sedekah ini akan dilipatkan menjadi minimal 700 kali lipat. Ini adalah janji Allah, dan janji Allah itu pasti benar adanya.

Saya menjadi tercenung beberapa saat. Hati saya bertanya, “Apakah semudah itu?”

Saya tidak pernah menyangsikan keajaiban sedekah, tetapi saya tidak mengartikan bahwa sedekah harus berbalas dengan wujud materi. Jika memang harus demikian, tentu kita akan mendapati Rasulullah Saw yang senantias menyedekahkan seperlima dari harta rampasan perang, tentu akan memiliki harta yang berlipat. Demikian pula sahabat Abu Bakar Shiddiq yang pernah menyedekahkan seluruh hartanya, atau Umar bin Khattab yang menyedekahkan sebagian besar harta beliau, mereka tentu akan berlipat hartanya dengan sedekah yang dilakukannya. Meski demikian, kita tidak pernah menyangsikan bahwa ketaqwaan mereka sungguh teramat luar biasa. Dan mereka adalah sahabat-sahabat yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw sebagai calon penghuni surga. Subhanallah.

Sedekah adalah pembukti iman. Manakala sedekah yang dilakukan seseorang itu ikhlas tanpa mengharap apa pun selain keridhaan Allah Swt., maka sedekah yang dilakukannya menjadi saksi atas kebenaran imannya. Namun demikian, tidak sedikit kita menjumpai orang-orang yang bersedekah demi mengharap balasan dunia. Sedekah model begini, bukan justru akan menyelamatkan hidupnya, melainkan akan menjerumuskannya dalam sebuah dosa yang berakibat menghilangkan keberkahan hidup di dunia dan ancaman kehidupan yang menyengsarakn di akhirat.

Atas maraknya fenomena bersedekah seperti saat ini, sebagaimana tergambar dalam sinetron-sinetron atau kisah-kisah keajaiban sedekah, saya mensyukurinya sebagai pemacu semangat bagi orang yang memiliki kelebihan harta untuk senantiasa melakukan sedekah hartany. Namun pada sisi lain, timbul sebuh kekhawatiran, kisah-kisah itu dijadikan bukti dan legitimasi bahwa Allah Swt akan membalas sedekah secara tunai berwujud kelipatan sejumlah uang yang disedekahkan. Padahal lipatan balasan itu tidak harus berwujud demikian atau akan langsung diberikan di dunia ini.

Ada suatu kisah di mana orang yang melakukan kemaksiatan menyangka dirinya melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Ada pula kisah orang yang sedang dibiarkan dalam kesesatan menyangka dirinya mendapat kemuliaan di sisi Allah Swt. Kita patut berhati-hati menyikapi hal-hal yang serupa dengan hal ini. Oleh karenanya, janganlah bersedekah dengan mengaharap lipatan harta di dunia. Andai pun Allah Swt. Memberikan lipatan harta di dunia ini, berhati-hatilah untuk mengatakan bahwa itu adalah hasil dari sedekah yang kita lakukan. Siapa tahu Allah Swt sedang menguji kita.

Ada baiknya kita menyimak pendapat Prof. Dr. M. Mutawalli Sya’rawi bahwa rezeki itu (apa yang diperoleh manusia), seperti halnya semua takdir Allah yang lain, berjalan dengan hikmah kebijaksanaan yang tinggi yang tidak kita pahami. (Disarikan dari kisah Mulyono Rafianto)

Info PELUANG USAHA SAMPINGAN untuk sahabat muslim


kesempatan bagi anda yang ingin berangkat umroh, dengan cara murah dan mudah, TERBUKTI sudah banyak sahabat lain yang berangkat ibadah umroh secara GRATIS dan mendapatkan BONUS 450 JUTA langsung ditransfer ke rekening.....

ads by google

Artikel Terkait Lainya