Peluang Bisnis Berkah Ustad Yusuf Mansur

bisnis e-miracle asli bersama ustad yusuf mansur

Selasa, 22 Juli 2014

PENOLONG MISTERIUS



Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu untuk memenuhi panggilan azan yang bergaung indah memenuhi angkasa.

“Allahu Akbar!” suara lelaki itu mengawali salatnya.

Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian doa. Seusai salat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah.
Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya.

“Rupanya malam sudah larut…,” bisiknya.

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah yang terkenal sebagai saudagar yang kaya raya itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Di tengah malam yang gelap gulita, Ali Zainal Abidin membawa karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkannya.

Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas, Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok Madinah.

“Alhamdulillah, harta titipan sudah kusampaikan kepada yang berhak,” kata Ali Zainal Abidin.

Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari mimpinya.

Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan sekarung tepung di depan pintu.

“Hah, siapa yang sudah menaruh karung gandum ini?” seru orang yang mendapat jatah makanan :Rezeki Allah telah datang! Seseorang membawakannya untuk kita!” Sambut yang lainnya.

Begitu pula malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu mengirimkan makanan untuk orang-orang miskin. Dengan langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakkan karung-karung di muka pintu rumah orang-orang yang kelaparan.

“Sungguh kita terbebas dari kesengsaraan dan kelaparan, karena seorang penolong yang tidak diketahui!” kata orang miskin ketika pagi tiba.

“Ya, semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang penolong,: timpal seorang temannya.

Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur kepada Allah. Sebab, dengan memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin berlipat-lipat.
Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan siapa yang sudah mengirimnya?

Ali Zainal Abidin senang melihat kaum miskin di kotanya tidak mengalami kelaparan. Ia selalu mencari tahu tentang orang-orang yang sedang kesusahan dan malam harinya, ia segera mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.

Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba, tanpa diduga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya!

”Hai! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak…,” orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.

Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang dirampok. “Ayo cepat! Mana uangnya?!” gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.
Ali lalu menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga ia lemparkan karung itu ke tubuh sang perampok. Membuat orang bertopeng terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan.

“Siapa kau?!” Tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu.

“Ampun, tuan! Jangan siksa saya. Saya hanya seorang budak miskin…,” katanya ketakutan.

“Kenapa kau merampokku?” Tanya Ali kemudian.

“Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan,” sahutnya dengan wajah pucat.

Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus.

“Ampunilah saya, tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat…,”

“Baik! Kau kulepaskan. Dan bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan, bukan?” kata Ali.

Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub.
“Sekarang, pulanglah!” kata Ali.

Seketika orang itu pun bersimpuh di depan Ali sambil menangis.

“Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan mulia! Saya bertaubat kepada Allah. Saya berjanji tidak akan mengulanginya,” kata orang itu penuh sesal.

Ali tersenyum dan mengangguk.

“Hai, orang yang taubat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah Maha Pengampun.”

Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali lalu memberi hadiah kepadanya karena ia sudah bertaubat atas kesalahannya.

“Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu denganku pada malam ini…,” kata Ali sebelum orang itu pergi, “Cukup kau doakan agar Allah mengampuni segala dosaku,” sambung Ali.

Dan orang itu menepati janji. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin.

Suatu ketika, Ali Zainal Abidin wafat. Orang yang dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan jenazahnya bersama orang-orang.

Orang-orang itu melihat bekas-bekas hitam di punggung dan pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya.

“Dari manakah asal bekas-bekas hitam ini?”

“Itu adalah bekas karung-karung tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di Madinah,” kata orang yang bertaubat itu dengan rasa haru.

Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin, keluarga mereka yang biasa diberi sumbangan itu merasa kehilangan.

Orang yang bertaubat itu lalu mengengkat kedua tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, ampunilh dosa Ali bin Husein bin Abi Thalib, cicit Rasulullah saw. Ini.

Mari Ketanah Suci Selagi Kita Diberi Umur dan Kesehatan

peluang usaha muslim travel umroh bersama wisataumrah.com

Artikel Terkait Lainya